Home  /  Seni  / Cerpen – Aragea, Malam tanpa Jeda (Bagian 2)

Cerpen – Aragea, Malam tanpa Jeda (Bagian 2)


Cerpen – Aragea, Malam tanpa Jeda (Bagian 2)

Baca: Aragea, Malam Tanpa Jeda (Bagian 1)

       Hari sudah kembali hampir gelap. Ruda dan yang lainnya yang meneruskan perjalanan merasa sangat kelelahan. Tenaga mereka terkuras karena harus bergantian menggendong Flo, kecuali Elika, ia hanya bertugas membawa ransel besar yang tidak terlalu berat. Mereka sesekali berhenti untuk melepas lelah. Tidak berfungsinya kompas menambah sulit penentuan arah yang harus mereka tempuh.

       Perasaan putus asa kembali merayap dalam benak mereka. Mereka merasa mustahil dapat keluar dari Aragea. Dalam perjalanan mereka yang lebih dari setengah hari itu beberapa kali mereka seperti melihat tepi atau ujung dari Aragea, tapi setelah mereka berjalan dan mendekatinya, semuanya hanya fatamorgana. Yang ada di hadapan mereka hanyalah rimba gelap yang terhampar seolah tak bertepi. Dan mereka sama sekali tak tahu di mana titik lokasi dari Aragea yang mereka pijak saat ini.

      “Kita bermalam di sini. Perjalanan kita lanjutkan besok.” Tak ada yang membantah perkataan Ruda itu, semuanya terlalu letih. Segera mereka mendirikan tenda. Ruhu membuat api unggun lebih banyak. Dan penjagaan di lakukan dalam radius yang lebih jauh. Ruda memutuskan tak tidur semalaman. Sementara Ruhu dan Piga bergantian menemaninya.

       Di tempat berbeda, Jei dan Moru bermalam di atas pohon. Bagi mereka itu lebih aman dan merupakan cara yang pintar. Tak jarang Jei menyumpah serapah dan terus memaki Piga juga Ruda. Sepanjang perjalanan siang tadi pun Moru di buat hampir muntah karena terpaksa harus mendengar ocehan Jei yang tak berhenti tentang Piga dan Ruda.

       Pagi telah menjelang, meskipun siang hanya remang-remang tapi lebih baik jika dibandingkan malam yang gelap sempurna. Mereka segera membereskan semua peralatan dan bersiap melanjutkan perjalanan. Sementara Flo, demamnya meninggi, tubuhnya semakin kurus, ia pun mengigau tentang Aruw. Ruhu berlari menembus remang-remang rimba untuk mencari daun yang dapat dijadikan obat. Tak lama ia kembali membawa dedaunan. Setelah beberapa kali dikompres dengan remasan daun yang tak mereka tahu namanya itu, panas tubuh Flo kembali turun. Ajaib bagi El dan yang lainnya, tapi bagi Ruhu sendiri itu hal yang biasa saja dan memang seharusnya seperti itu. Daun yang ia bawa adalah daun sejenis cocor bebek tapi bentuknya memang lebih tebal dan aneh dari daun cocor bebek. Dan setahunya daun cocor bebek memang bisa menurunkan panas tubuh.

       Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Ruhu tampak berjalan paling belakang, Piga menggendong Flo, sementara Ruda dan El berjalan di depan. “Aku yakin arah yang kita tuju saat ini adalah timur. Arah paling dekat dengan tepi Aragea dari lokasi kita saat ini.” Ruda berkata sembari tangannya menunjuk ke depan. Tak ada komentar ataupun sanggahan dari yang lainnya. Semuanya tak peduli lagi. Satu-satunya keinginan mereka saat ini adalah keluar dari Aragea yang terkutuk dan berharap bahwa kali ini perkiraan Ruda tidak salah.

        Medan yang sulit benar-benar cepat menguras tenaga mereka. Berkali-kali mereka bergantian menggendong Flo. Saat Ruda, Ruhu, dan Piga telah kehabisan tenaga, Elika mencoba memapah Flo yang sedikit terlihat membaik untuk berjalan. Tenda kembali didirikan ketika perjalanan sudah tak memungkinkan dilanjutkan. Bekal makanan yang mereka bawa telah habis. Beruntung masih ada umbi yang bisa mereka makan di sekitar tempat itu. Sejenis ubi jalar tapi rasanya sedikit pahit juga keset, tepatnya rasanya tak menentu. Tapi hanya makanan itu yang mereka dapatkan dan dinyatakan aman untuk dimakan. Sebetulnya pernyataan aman lagi-lagi berdasar atas pengetahuan Ruhu tentang segala sesuatu yang bisa di manfaatkan ketika berada di hutan. Sampai-sampai untuk membuktikan ubi itu aman, di tenda sebelumnya Ruhu yang pertama kali memakannya.

     “Rud, apa kita semua akan selamat?” Tiba-tiba El melemparkan pertaanyaan itu pada Ruda yang sibuk membuat senjata dari bambu. “El, jika kita percaya pada keajaiban, pasti akan datang keajaiban itu. Yang penting kau berdoa, dan kau lihat sendiri, dua hari ini kita tak diganggu binatang itu kan?” Elika hanya menganggukan kepala mendengar jawaban Ruda yang menyejukan itu. Ruda kemudian berjalan menghampiri Ruhu yang bertugas membuat tempat pertahanan. Lalu mereka tampak merencanaan sesuatu.

    “Firasatku mengatakan Binatang itu tak benar-benar melupakan kita. Dia dekat dengan kita.” Ruhu berkata dengan suara sedikit tertahan. Tak bisa dipungkiri, firasat Ruhu tak pernah meleset selama ini, Ruda sendiri tak punya alasan untuk menangkalnya karena ia sendiri pun sebenarnya merasakan firasat yang sama. “Iya, lalu apa rencanamu?” Kemudian mereka tampak serius membahas rencana mereka itu.

      Sementara di tempat berbeda, Jei dan Moru terengah-engah karena mereka di serang binatang itu dengan tidak terduga. Setelah tembakan dari senapan Jei tak benar-benar menolong mereka, mereka berlari semampu mereka untuk mencari perlindungan. Tapi mereka kembali mendapat masalah lain ketika mereka bersembunyi di dalam ruang bebatuan yang lebih mirip gua, mereka menemukan sosok binatang-binatang buas yang lainnya yang lebih aneh di sana.

*

      Ruda sibuk menyelesaikan pekerjaannya, membuat gubuk sederhana di atas pohon setelah dengan iseng ia memanjat pohon tertinggi di sekitar tempat itu untuk mengikatkan sebuah bendera kelompok mereka yang semula mereka rencanakan akan mereka kibarkan di puncak Aragea. Setidaknya itu mungkin akan mengobati perasaannya untuk ambisi yang tak bisa ia wujudkan. Ia memutuskan untuk tetap bertahan di tempat itu setidaknya sampai tenaga mereka pulih. Tapi kesempatan itu juga sekaligus mereka gunakan untuk menghadapi binatang itu.

        Ruhu dibantu Piga membuat sebuah jebakan yang mereka design sendiri. Beberapa buah kayu besar yang dilubangi dan dipasang batang-batang bambu yang berujung  runcing. Lalu mereka pun membuat sebuah lubang yang berukuran cukup besar yang kemudian mereka tutup dengan dedaunan di atasnya.

        Hari telah gelap. Pekerjaan mereka telah selesai. Sebuah gubuk sederhana hanya cukup untuk Flo dan Elika tidur telah tertata dengan kokoh di atas pohon. Sementara Ruda, Ruhu dan Piga tetap di bawah dengan Api unggun. Semalaman mereka berjaga bergantian. Waktu bergulir cukup cepat. Binatang itu seolah membiarkan mereka lengah dengan sama sekali tak menampakan diri atau barangkali binatang itu telah menemukan mangsa lain?

        Pagi-pagi sekali, Ruhu mengecek persiapan jebakannya. Cukup rumit, kayu yang di penuhi bambu runcing itu diikat dengan tali lalu di kaitkan pada sebuah pohon dan tali yang lain menghubungkan kayu itu ke sebuah pohon lain. Ketika Ruda dan Piga pun turut membantu Ruhu memeriksa bagian yang lain, tiba-tiba terdengar teriakan Elika dari atas. Ketiganya dengan cepat menghambur menuju tempat Elika dan Flo berada. Elika menangis. Dihadapannya tubuh Flo berguncang. Nafasnya tersengal putus-putus menahan sakit. Ruda dan yang lainnya mengelilingi tubuh Flo dengan panik. Dan tak lama Flo menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan-lahan seperti menyadari itu adalah nafasnya yang terakhir.

         Ruda memeluk El yang tak berhenti menangis. Mereka semua tak mampu berkata-kata. Begitu kelu juga perih yang tersisa di hati mereka. Hari itu juga Flo dikuburkan. Akankah persahabatan dan hidup mereka benar-benar berakhir di tempat itu? Maut menjemput mereka satu-satu dengan pasti. Seperti hendak membuktikan tak ada yang berkuasa atas waktu selain Tuhan. Apa gunanya berencana jika semua telah di tentukan? Bermimpi dan berambisi apakah juga sebuah kesalahan? Berbagai perasaan menyerang mereka.

        Setelah semuanya dapat di kendalikan, seperti yang telah mereka rencanakan, hari itu mereka akan menjebak binatang Triceratops. Ruhu berdiri di depan lubang besar yang telah mereka buat. Setelah binatang itu dekat Piga yang bertugas memutus tali jebakan dan kayu besar yang dipenuhi bambu runcing yang akan meluncur dan menghantam kepala binatang itu. Tak hanya itu, sebuah kerangkeng juga telah mereka siapkan. Sementara lubang akan dijadikan sebagai jebakan cadangan jika binatang itu lolos dari jebakan sebelumnya. Triceratops kurang lebih hidup enam puluh delapan juta tahun yang lalu. Makanan utamanya adalah tumbuh-tumbuhan dan itu terbukti ketika binatang itu sama sekali tak memangsa mayat Domi. Lalu kemungkinan terbesar yang membuat binatang itu menyerang mereka hanyalah instingnya untuk melindungi diri dan kemungkinan lainnya ia merasa terganggu. Berbeda dengan Deinosuchus yang memang karnifora yaitu pemangsa daging dan lebih agresif.

        Ruhu dengan tenang berdiri di dekat lubang. Ia berdiri dengan tangan kosong. Pistolnya diberikan pada Piga. Piga bersiap dengan goloknya di atas pohon untuk menebas tali jika mendapat aba-aba dari Ruhu. Sementara Ruda tetap di atas dengan Elika. Tugasnya adalah melindungi Ruhu jika keadaan berjalan tidak sesuai rencana. “Rud, apa kamu yakin rencana Ruhu akan berhasil?” Elika berkata dengan suara berbisik pada Ruda. Ruda tersenyum. “Ya.. kita berdoa saja.”

        Sesuatu yang di tunggu akhirnya menampakan diri. Binatang itu berjalan pelan menghampiri Ruhu dari balik semak. Ruhu tetap terlihat tenang, sama sekali tak terlihat ada ketakutan di wajahnya. Di atas gubuk, Elika menahan nafas karena tegang. Sementara Ruda bersiap dengan senapannya.

         Binatang itu berdiri di area jebakan satu. Ruhu memberi isyarat dengan tangannya pada Piga untuk melaksanakan tugasnya yaitu memotong tali pengikat kayu besar yang dipenuhi bambu runcing itu. Dalam hitungan detik, dua kayu besar dengan bambu runcing dari dua arah yang berlawanan menghantam tubuh binatang itu dengan kecepatan tinggi. Tapi tak seperti yang ada di bayangan Ruhu yaitu binatang itu akan terluka atau paling tidak terpental karena hantaman itu, sebaliknya binatang itu hanya mundur dua langkah dan tubuhnya sama sekali tak mampu ditembus bambu runcing itu. Hanya saja kini tubuhnya terperangkap di antara dua jebakan itu.

        Ruhu kembali memberi isyarat pada Piga untuk memutus tali pengikat jebakan kedua. Elika masih tegang melihatnya. Tak lama pun sebuah kayu dan bambu yang disusun berbentuk kerangkeng besar meluncur dan mengunci wilayah badak raksasa itu. Dan kembali sesuatu yang luput dari perhitungan Ruhu terjadi. Badak raksasa itu menggerakan tubuhnya dan bergerak tanpa kendali membentur-benturkan tubuh dan culanya pada dinding kerangkeng. Tak membutuhkan waktu yang lama kerangkeng itu hancur tak mampu menahan kekuatan binatang monster itu.

         Terlambat bagi Ruhu menyadari bahwa bahaya kini tertuju padanya, binatang itu menyerang ke arahnya. Sebuah cula menancap dan merobek perut Ruhu. Elika menjerit menutup matanya. Tubuh Ruhu rubuh bersimbah darah, tapi binatang itu tak puas melihatnya, tubuh Ruhu kembali diangkat dengan culanya dan dilemparkannya menghantam sebuah pohon. Beberapa kali tembakan dari senapan Ruda tak mampu menghentikan binatang itu. Gigi Piga gemertak menahan dendam dan kemarahan. Tanpa buang waktu, ia mencabut golok dan pistol tetap di tangan kirinya lalu beranjak turun dari tempatnya. Ruda yang berteriak melarangnya tak mampu menahannya.

        Piga melepaskan tembakan ke arah binatang itu yang membuat binatang itu beralih menyerang ke arahnya. Dan Piga sudah bersiap dengan goloknya. Sebelum sebuah tandukan cula mendarat di perutnya, sebuah sabetan golok dengan tangkas dan tepat mampu merobek kulit kepala badak itu. Tubuh Piga terlempar, beruntung cula yang mengarah pada perutnya mampu ia hindari. Badak raksasa itu terlihat semakin marah, ia berlari menuju Piga tapi sebuah tombak bambu runcing dengan besi di ujungnya telah lebih dulu menyerang badak itu, diikuti juga tombak ke dua, dan ke tiga yang terpaksa mengalihkan perhatian badak itu. Dengan gagahnya sang pelempar keluar dari semak. Itu Moru. Ia memegang satu tombak dan satu senapan.

        Seperti sebuah tantangan dan ejekan, sebuah tombak di tangan Moru kembali dilemparkan ke arah badak itu, tapi badak itu berhasil menghindarinya dan seolah menjawab tantangan itu dengan  menyerang tombak yang menancap di tanah itu dengan culanya sampai patah. Badak raksasa yang marah itu tak memberi kesempatan pada Moru untuk mengamankan diri. Ia berlari menyerang Moru. Dan Moru telah bersiap dengan senapannya. Tapi seperti sebelumnya, binatang itu seperti tak mempan dengan peluru. Sebetulnya salah jika binatang itu dikatakan tak mempan oleh peluru karena peluru-peluru itu mampu menembus kulitnya yang tebal hanya saja tubuhnya lebih kuat untuk menahan rasa sakit dari lubang dan racun yang di sebabkan oleh peluru-peluru itu.

        Moru mundur teratur dan tak berhenti menembak. Badak itu semakin dekat dan memaksanya untuk berlari. Piga berteriak menyuruhnya berlari ke arah lubang jebakan. Dengan susah payah Moru pun membelokan arah larinya pada arah yang di tunjukan Piga. Ruda tak tinggal diam. Ia meminta El untuk tetap di atas, sementara ia bergeas turun. Moru hampir sampai di lubang jebakan. Ia kehilangan tenaga. langkahnya semakin melambat. Ruda teringat pesan Ruhu yang memintanya menembak badak itu di bagian matanya. Ia mulai mengarahkan senapannya pada binatang itu.

        Hanya berjarak beberapa meter lagi langkah Moru berhasil menggiring binatang itu pada lubang jebakan, namun tenaganya benar-benar terkuras dan tiba-tiba kakinya tersandung sebuah akar pohon. Moru terjatuh dan sebuah cula tajam menyongsong punggungnya. Ia berteriak menahan sakit, darah mengalir sementara badak itu masih membiarkan cula menancap di tubuh Moru sampai akhirnya sebuah peluru dari senapan Ruda tepat menembus mata kiri binatang itu dan membuatnya melepaskan tusukan culanya. Badak raksasa itu berjalan  limbung dan kehilangan keseimbangan. Perlahan Moru dibantu Piga berusaha mencari tempat aman. Binatang itu semakin brutal menyerang tanpa kendali dan tanpa arah yang jelas. Darah mengucur dari matanya.

        Ruda masih membidikan senapannya ke arah badak itu. Dan Door.. kembali sebuah peluru melesat dan tepat mengenai mata kanan badak itu yang membuatnya semakin limbung dan terjatuh ke dalam perangkap lubang yang di buat Piga. Lubang itu cukup besar dan dalam, sementara di dasarnya telah siap puluhan bambu runcing dan bara api yang menyambut tubuh badak itu. Piga dengan sisa kekuatannya berlari untuk menebas sebuah tali pengikat jebakan terakhirnya. Sebuah kayu besar penuh bambu runcing seperti jebakan pertamanya yang berfungsi menutup lubang dan membuat badak itu terkunci gerakannya.

        Elika bergegas turun. Bersama Ruda berjalan ke arah Ruhu yang sudah tak bernyawa. Ruda mengangkat tubuh Ruhu untuk membaringkannya di tempat Piga dan Moru. Elika tak henti menangis ketika ia membersihkan bercak-bercak darah di seluruh tubuh dan wajah Ruhu. Sedangkan Piga masih menopang tubuh Moru yang lemah. Darahnya semakin banyak keluar, memang luka di punggung Moru cukup besar. Ruda dan Elika pun ikut menghampiri Moru dengan sebuah kain dan air untuk membersihkan luka Moru. Tubuh Moru berguncang hebat. Dadanya naik turun menahan sakit yang luar biasa. Tenggorokannya bergerak-gerak seperti hendak mengatakan sesuatu.

        Dengan suara terbata-bata ia pun berkata, “Kawan-kawan….ma..af..kan aku..mung..kin a..ku me..mang pantas mati…”  Mereka tak kuasa menahan air mata melihat keadaan Moru. “Sudahlah Mor, kau jangan bicara begitu…kau harus bertahan.” Ruda berkata dan tangannya tak henti membersihkan dan membalut luka Moru. Tenggorokan Moru kembali bergerak-gerak, “Jei ju..ga tewas oleh bi..na..tang kepa..rat itu. Se…belum ia mati, dia meminta..ku me..nyampai..kan per..mint..aan ma..af..nya pada kalian.”  Nafas Moru tersendat dan beberapa kali Ruda menahannya untuk tak terlalu banyak bicara dulu tapi Moru tetap berusaha meneruskan perkataannya, “Te..rutama pada kau El dan Flo.. Flo mana?”   Elika tak mampu membendung air matanya, ia menangis dan menggenggam tangan Moru. “Flo sudah tidak ada, makanya kau harus bertahan, kita akan pulang..” Piga berbisik pelan di telinga Moru. Ada beberapa bulir air mata Moru yang megalir melewati pipinya. Sesaat kemudian tubuhnya mengejang, ia meringis menahan sakit. Dadanya kembali berguncang, nafasnya seperti sesak, dan hanya dalam satu tarikan nafas yang panjang ia telah pergi dan tak pernah kembali. Elika menjerit. Air matanya tumpah. Piga dan Ruda pun tak kuasa menahan air matanya. Piga memeluk tubuh Moru.

        Hari itu juga mereka menguburkan jasad Ruhu dan Moru di tempat itu. Setelah semuanya selesai mereka secepatnya meninggalkan tempat itu. Meski malam sudah beranjak turun tapi mereka tetap melanjutkan perjalanan. Mereka ingin secepatnya mengakhiri mimpi buruk yang sudah mereka jalani selama hampir dua minggu itu. Mereka seakan tak memperdulikan tubuh dan kaki mereka yang letih. Hari itu mereka sama sekali tak makan makanan apapun kecuali minum dari beberapa mata air yang mereka lalui. Menurut perhitungan Ruda, jika malam ini mereka tak menghentikan perjalanan, maka subuh nanti mereka akan sampai di sungai yang menjadi batas Aragea.

        Bayangan kebebasan, semangat untuk mengahiri hari-hari menakutkan telah membuat mereka tak menghiraukan lagi rasa letih. Ruda berjalan paling depan. Tangannya memegang obor dan senapan. El dan Piga mengikutinya di belakang dengan masing-masing satu obor juga. Ada sebentuk kegalauan dan kesedihan yang sulit mereka artikan di hati mereka. Hari yang singkat itu telah membawa mereka pada pengalaman yang takan mungkin bisa mereka lupakan sepanjang hidup mereka. Perjalanan ini menjadi perjalanan yang sangat berharga bagi mereka. Ruda tetap menatap ke depan. Bulir-bulir air matanya kembali terurai. Ia baru menyadari, ada yang lebih penting dari hanya mewujudkan segala ambisi.

        Perjalanan mereka akhirnya berakhir ketika dari kejauhan mereka melihat sebuah semburat cahaya warna-warni fajar di langit timur. Ketiganya saling pandang dan tersenyum. Inikah kebahagiaan? Inikah arti kebebasan? Ketiganya menjatuhkan tubuh mereka. Mereka berlutut dan menatap fajar itu. Hanya dalam hitungan menit mereka akan menatap kembali dunia luar. Sesuatu yang sempat menjadi mustahil di pikiran El, bahkan Piga dan Ruda juga sesungguhnya.

        Mereka kembali bangkit, meski dengan rasa letih yang semakin mendera, mereka memaksakan kakinya melangkah menuruni sebuah tebing yang tak terlalu curam menuju tepian sungai. Semalaman tak henti melakukan perjalanan membuat kaki mereka benar-benar kaku dan letih. Sampai juga mereka di tepian sungai itu dan mereka bergegas menceburkan diri ke tepian sungai untuk sekedar mengobati letih tubuh mereka. Dan Ruda berteriak ketika ia melihat sebuah rakit dengan seorang suku pedalaman yang berdiri di atasnya. Ia tampak sedang mencari ikan. Mereka bertiga melambaikan tangan ke arah suku pedalaman itu. Akhirnya dengan rakit itu mereka mengarungi arus sungai untuk pulang dan meninggalkan dimensi malam yang teramat panjang untuk hitungan jarak dan benak.

:

Tangerang 10 Mei 2009

Riyan Putra

artikel-berkualitas

Banyak orang membutukan informasi ini. Bagikan artikel GRATIS ini sekarang juga. . .

Related Post


Cerpen – Kristal Hujan
Cerpen – Kristal Hujan

        Igo, seorang lelaki muda berkemeja abu-abu…

Cerpen – Aragea, Malam Tanpa Jeda (Bagian 1)
Cerpen – Aragea, Malam Tanpa Jeda (Bagian 1)

         Sebuah api unggun besar menyala di…

5 Proses Berkarya Seni Lukis
5 Proses Berkarya Seni Lukis

Anda tentunya sudah tahu bahwa karya seni rupa dua dimensi memiliki…

Cerpen – Bulan Sepotong Semangka
Cerpen – Bulan Sepotong Semangka

      Jam dinding menunjukan jam tiga pagi. Di ruangan…