Home  /  Seni  / Cerpen – Bulan Sepotong Semangka

Cerpen – Bulan Sepotong Semangka


Cerpen – Bulan Sepotong Semangka

      Jam dinding menunjukan jam tiga pagi. Di ruangan kamar yang tak terlalu luas itu Andrias, seorang lelaki tua, seperti biasa masih tampak serius mengetik naskah cerita pendeknya di depan komputer. Kini ia mulai terbiasa menuangkan semua kenangan dan perjalanan hidupnya dalam sebuah cerita pendek.

        Sesekali ia memalingkan wajahnya ke belakang Tampak Anisa, istrinya tertidur dengan pulas. Perlahan pandangannya tertuju pada sebuah foto besar yang terpampang di dinding atas tempat tidurnya. Sebuah foto dirinya dengan Anisa perempuan yang ia nikahi puluhan tahun silam dan kini telah memberinya dua putri dan satu laki-laki. Ia pun bergantian menatap foto Reka, putrinya yang pertama dan kini telah hidup dengan suaminya, Rovi anak lelaki yang merupakan anak ke dua, lalu Armela si bungsu. Ke tiga foto itu sengaja ia letakan di meja kerjanya. Andrias menarik nafas panjang, lalu tak lama ia kembali melanjutkan pekerjaannya.

        Kau ingat Dian, Waktu itu malam benar-benar pekat. Bulan katamu sepotong semangka. Aku tertawa mendengarnya. Kau berkata seperti itu tentu karena aku suka semangka bukan? Tentu kau masih ingat, dulu kita sering ke kebun Pak Eo, petani semangka. Jika kita berkunjung ke rumahnya, maka selalu kita di jamunya dengan semangka-semangka segar. Hari itu saat kita menemuinya di gubuk kebunnya, dan beberapa potong semangka menemani obrolan kita, aku mengalihkan perhatianmu dan melalap habis potongan semangka bagianmu. Aku selalu tertawa ketika  mengingatnya.

        Dan malam itu di tengah lapangan kau tak mau pulang meski waktu menunjukan hampir tengah malam. Kau terpaku melihat bulan itu. Aku membujukmu, tapi aku tahu itu akan sia-sia karena kau terlalu keras kepala. Tapi bagaimanapun aku terbukti mampu mengalahkannmu meskipun aku harus terlebih dahulu berjanji akan membayar sepotong semangka yang pernah aku habiskan dulu.

        Di atas becak, dalam pekat itu, wajah kita tak ketara. Kita membeku. Tapi aku tahu hatimu bergejolak, begitu juga aku. Aku sadar, kita bukan lagi bocah waktu itu Ian. Kita tahu arti sebuah kehadiran, dan malam itu kita tahu itu akan segera menjadi akhir kebersamaan kita. Sore sebelumnya kau menelponku setelah kau tahu aku harus pergi dari kotamu untuk waktu yang tak di tentukan dan tempat yang sama sekali aku belum tahu. Dalam telpon itu kau berkata ingin menemuiku malam ini. Meskipun sesungguhnya ketika di lapangan tadi kau diam dan tak banyak bicara tak seperti biasanya. Tidak adakah yang ingin kau katakan saat itu Ian?

        Kita sama sekali tak pacaran. Yang aku tahu kita hanya saling menikmati kebersamaan kita. Dan kini, apa artinya perpisahan bagi kita Ian, bukankah kita  juga tak pernah mengharapkan pertemuan kita? Lalu kenapa malam itu hati kita begitu sedih dan takut kehilangan, bahkan terlalu rumit hanya untuk dikatakan sedih.

        Malam itu langit memang gelap, udara terasa dingin di kulit kita. Dan kita masih membeku dalam becak itu.Kita mungkin terlalu sibuk merangkum kenangan. Lampu jalan beberapa kali menerobos samping becak, menabrak wajahmu. Ada air mata di sana. Air mata yang mungkin kau sembunyikan dan berharap aku tak melihatnya. Tapi aku terlanjur melihatnya Ian. Hatiku seolah remuk, melihat mata yang selalu aku kagumi kini meneteskan air mata.

        Dan kini aku baru tahu Ian, mencintai itu sangat menyenangkan. Aku bahagia bisa mencintaimu meski rasa itu tersamar dan baru sekarang aku bisa mengatakan dengan pasti bahwa aku memang mencintaimu. Kebersamaanku denganmu adalah hari-hari indah yang ternyata sulit aku dapatkan setelahnya.

        Kau membuka tasmu seperti mencari sesuatu tapi tak ketemu. Aku bertanya, kau mencari apa lalu kau menjawab kau mencari bedakmu. Tapi aku tahu kau berbohong. Karena aku pun tahu kau tak pernah membawa benda itu ketika berpergian. Kau mencari sapu tangan. Tentu untuk menghapus air matamu diam-diam. Untuk ke dua kalinya lampu jalanan kembali menabrak wajahmu. Kulihat makin deras air-air bening itu melewati pipimu. Aku tahu kau berusaha menahannya tapi kau tak bisa.

    Perlahan kuberanikan diri menghapus air matamu dengan tanganku. Dan tak sadar, aku cium keningmu. Kupeluk erat tubuhmu. Erat sekali, karena aku tahu itu akan menjadi pelukan pertama dan mungkin terakhir kalinya. Bukankah saat itu kau tak ingin mendengar aku bertanya “Kenapa kau menangis Ian?” atau “Sudahlah Ian jangan menaangis.”

        Kau membiarkan tanganku menggenggam erat tanganmu. Lalu air matamu kurasakan hangat membasahi dadaku, tanganku. Semakin deras. Dian, mungkin cinta memang telah ada di hati kita. Tapi haruskah kuungkapkan malam itu? Apakah kau ingin mendengarnya dariku? Tapi aku tak mau membuat awal sekaligus akhir yang tak menentu itu dalam satu waktu. Aku tahu, aku pergi dari kotamu adalah sesuatu yang pasti, dan aku tak ingin meninggalkanmu dengan satu fakta yang sebenarnya hanya akan menyiksamu.

     Bahkan jika aku sanggup, akan aku katakan sejak kita di lapangan tadi bahwa aku adalah orang brengsek, kau bukanlah tipe gadis yang ku suka, dan semua kata-kata yang bisa menyakitimu, agar kau membenciku, agar kau mudah melupakanku nanti. Tapi ternyata aku tak sanggup.

        Tepat di depan rumahmu becak berhenti. Sesungguhnya malam itu kita beruntung masih bisa mendapatkan tukang becak yang mau mengantarkan kita karena malam benar-benar telah larut, dan langit begitu mendung seolah hujan akan segera turun. Ketika becak itu hampir berputar arah meninggalkan kita, kau memintanya untuk tetap menunggu, kau memintaku membawamu pergi. Tentu saja aku tak mau, susah payah aku mengajakmu pulang, sudah sampai di depan rumahmu, kau memintaku membawamu pergi kembali. Tapi matamu kembali berkaca-kaca, Aku tak tahu perasaan apa yang ada saat itu tapi aku merasa aku sangat menyayangimu, dan aku tak sanggup menolak keinginanmu. Lagi pula itu mungkin untuk terakhir kalinya. Kau berjanji hanya sampai pagi saja. Kau ingin menghabiskan malam denganku. Kita kembali menaiki becak yang sama ke arah semula. Dan tukang becak itu hanya geleng-geleng kepala melihat kita.

        Becak kembali melewati jalan yang sama, jalan kota yang telah hening. Kulihat bulan masih sepotong semangka. Kita turun di atas jembatan besar, becak itu kita biarkan pergi setelah membayarnya. Kita duduk di trotoar jembatan itu, melihat air sungai yang tenang seperti berkilauan ditempa bulan. Mungkin selama ini aku tak mempunyai kekuatan untuk menyatakan cinta padamu, dan waktu sepertinya juga tak pernah memberiku kesempatan untuk hal itu. Tapi malam itu, kau, Tuhan, bulan, segalanya seolah memberiku kesempatan. Apa kau benar ingin mendengarnya Dian? Kutahan hatiku agar tak mengatakannya. Fajar membias pertanda pagi akan menjelang. Matamu pucat, tentu karena tak terbiasa tak tidur semalaman. Aku benar-benar tak tega. Apa seperti itu kau membayar perpisahanmu hanya dengan lelaki sepertiku? Aku tak rela Ian. Kupeluk erat tubuhmu sekali lagi.

        Sebelum jam enam kuantarkan kau pulang. Kau pun tertidur sepanjang perjalanan dengan becak itu. Ayah ibumu menanti dengan cemas, di rumahmu. Berkali-kali aku minta maaf. Aku katakan aku yang memintamu membantuku menyelesaikan tugas-tugasku. Sampai aku berhasil menyakinkan ayahmu, kau beluum juga terbangun dari becak itu, mungkin kau benar-benar letih. Lalu ku katakan pada ibumu agar tak membangunkanmu. Kugendong kau ke kamarmu. Aku tatap wajahmu ketika itu, aku menyadari kau begitu cantik, begitu sempurna. Mungkin wajah paling indah yang pernah aku lihat. Setelah berpamitan pada orang tuamu aku bergegas pulang karena jam delapan tepat aku harus sudah berada di bandara.

        Aku benar telah membulatkan tekad, aku harus bisa melupakanmu. Sembari mengemasi barang-barangku di rumahku, aku memisahkan semua barang yang berhubungan denganmu, lalu kuputuskan untuk meninggalkannya. Ian, kau tahu waktu itu hatiku benar-benar perih. Aku seperti berjalan di atas pecahan kaca. Sepanjang perjalanan menuju bandara aku masih di hinggapi perasaan yang sulit ku terjemahkan. Pikiranku melayang pada kenangan pertemuan kita, lalu hari-hari kita yang dulu seolah biasa saja, tapi kini terasa begitu istimewa segala kenangan itu.

        Jam delapan kurang aku sudah sampai di bandara. Jauh di luar dugaanku, keajaiban terjadi ketika aku berfikir kapan aku bisa melunasi janjiku padamu, memberimu sepotong semangka. Dengan jelas aku melihat kau berlari dari pintu masuk, dengan beringas mencariku, tentu saja tak mudah kau menemukanku di antara kerumunan orang sebanyak itu. Kau masih tampak pucat, rambutmu tak karuan, pasti kau bergegas ke bandara ketika terbangun dan menyadari aku pasti telah berada di bandara.

       Perlu ku katakan, entah keajaiban atau apa, terlalu mustahil memang kedengarannya tapi itu terjadi saat itu, ketika tepat seorang Bapak tua duduk disampingku dan tentu aku melihat beberapa buah semangka di tas keranjangnya. Aku sama sekali tak mengenalnya.Mungkin karena ketika aku mengobrol dengannya mataku sesekali terarah ke semangka miliknya itu, ia memutuskan memberikan sebuah semangkanya untukku. Aku menolaknya, tapi karena ia benar-benar berniat memberikannya padaku, lalu aku menerimanya.

       Ketika tanganku masih memegang semangka itu, pesawatku telah bersiap lalu terdengar sebuah pengumuman agar semua penumpang segera bersiap. Kulihat kau panik, dan aku tahu kau di ikuti Ayah ibumu. Mereka pun terlihat panik sepertimu dan mungkin berharap menemukanku. Tapi aku meyakinkan perasaanku, pertemuan itu hanya akan semakin membuatmu sedih. Kuputuskan untuk memotong semangka itu menjadi beberapa bagian kecil lalu membagikannya pada beberapa anak-anak yang berlalu lalang di sekitarku. Aku menyisakan sepotong semangka lain lalu meminta seorang anak kecil itu untuk memberikannya padamu dan mengatakan satu kata “Drias”. Aku berlalu menuju pesawatku. Mungkin kau menangis ketika menerimanya. Tapi hatiku lebih hancur melakukannya Ian.

        Pesawatku benar-benar terbang meninggalkan kotamu. Meninggalkan semuanya. Maafkan aku Ian, aku sekarang tak punya hutang lagi, janjiku telah aku tepati. Di kota tujuanku, handphone yang sengaja dari pagi kumatikan, kuhidupkan kembali, ternyata beberapa kali kau juga ibumu mencoba menghubungiku. Bahkan sms ibumu tak bisa aku lupakan sampai saat ini. Ibumu memberi tahuku, bahwa kau sakit, Ibu dan ayahmu juga tak mengetahui bahwa pagi itu aku akan pergi. Mereka hanya tahu setiap malam kita pergi jalan-jalan ke TIM dan GKJ, menonton film, membeli buku. Aku kemballi teringat tentang kau yang awalnya tak menyukai seni lalu menjadi tergila-gila dengan seni. Kembali ku matikan Handphoneku, lalu ku buang sim cardku. Aku benar-benar tak ingin membuatku mengenangmu.

        Kini dua puluh tahun telah berlalu dari waktu itu. Ku dengar kau sudah mempunyai anak bahkan cucu. Tentu saja aku bahagia. Beberapa kali aku diam-diam terbang ke kotamu. Diam-diam pula aku mencari tahu kabarmu, mendatangi tempat-tempat yang dulu pernah kita datangi, perkebunan Pak Eo, Dan ternyata ia sudah meninggal dan kini perkebunan itu di kelola putranya, Toko buku, warung-warung pinggir  jalan langganan kita, lapangan tempat kita melihat bulan, bahkan jembatan tempat terakhir kita menghabiskan malam. Tapi tak pernah sampai hati aku menemuikmu lagi. Aku sudah cukup hancur dengan semua itu dan tak ingin melihatmu hancur sepertiku lagi.

        Terakhir aku terbang ke kotamu adalah ketika putri pertamaku tepat berusia dua belas tahun, dan aku berjanji pada diriku sendiri itu adalah kunjungan terakhirku ke kotamu. Kini aku hidup dengan istri dan putra-putriku yang menyayangiku, semua orang memang mempunyai masa lalu, dan aku tak ingin menyakiti mereka dengan masa laluku yang terus kusimpan. Selamat tinggal Ian, semoga kau selalu bahagia. Untuk terakhir kalinya pula aku berkata,aku menyayangimu. Salam dari lelaki pengecut, Drias.

:

Tangerang, 12 Agustus 2009

Riyan Putra

artikel-berkualitas

Banyak orang membutukan informasi ini. Bagikan artikel GRATIS ini sekarang juga. . .

Related Post


Cerpen – Cinta Terhalang Senja
Cerpen – Cinta Terhalang Senja

Seperti angin memuja langit Seperti pasir mengagum laut Raisya nafira…

Cerpen – Ketika Langit Hitam Sempurna
Cerpen – Ketika Langit Hitam Sempurna

  Hari hampir tengah malam, tapi Jakarta memang tak pernah…

Cerpen – Para Pengejar Bayang-bayang
Cerpen – Para Pengejar Bayang-bayang

        Senja menimpa kota. Seminggu sudah matahari…

Cerpen: Kisah Lelaki Ikan
Cerpen: Kisah Lelaki Ikan

      Namanya Galung. Mereka menyebutnya lelaki ikan. Meskipun sebetulnya mereka…