Home  /  Seni  / Cerpen – Ketika Langit Hitam Sempurna

Cerpen – Ketika Langit Hitam Sempurna


Cerpen – Ketika Langit Hitam Sempurna

  Hari hampir tengah malam, tapi Jakarta memang tak pernah tidur. Jalan raya tetaplah jalan raya. Mobil-mobil mewah tetap saja lalu-lalang tanpa henti di atasnya. Lampu-lampu kota yang semarak dan gedung-gedung tinggi, tak sedikit orang-orang yang masih terjaga dan terus bekerja di sana tanpa mengenal waktu.

   Alini masih terduduk di sebuah kursi pojok bar itu. Ia memegang sebuah foto dari dompetnya. Wajahnya menunduk dan terhindar dari lampu-lampu disko. Di ruang remang-remang bar itu tak satupun orang tahu bahwa ia menangis. Air matanya mengalir membasahi pipinya dan beberapa kali menetes mengenai foto Alea yang tampak tersenyum. Begitu cantik gadis itu. Alea adalah Adiknya satu-satunya. Tapi sejak kepulangan Alini ke kampung setahun yang lalu, Alea tak ada, menghilang entah kemana. Dan sampai saat ini ia terpisah dari Alea serta tak pernah tahu Alea ada di mana.

   Begitu getir sesungguhnya jalan hidup Alini. Tiga tahun sudah ia ada dalam dunia malam. Hidupnya mengalir dari gelas-gelas alkohol. Hari-harinya berputar di antara asap-asap rokok dan lampu-lampu bar, musik yang tak pernah berhenti, tangan-tangan lelaki iseng hidung belang, serta hotel.

   Ia tak lagi bisa menghitung berapa tubuh lelaki yang telah menindihnya. Berapa lelaki yang telah menjamah tubuh indahnya. Tak jarang ia menangis melakukan semua itu. Tapi untuk apa menangis? Tak ada yang peduli. Tuhan terlalu kejam. Kata-kata itu yang hinggga kini membara dalam dada mudanya.

   Ayahnya meninggal tepat ketika ia menamatkan sekolah menengahnya. Pak Kardi meninggal karena tak tahan dengan penyakit menahunnya. Keadaan ekonomi yang sangat memprihatinkan, Alea yang masih sekolah, hal itulah yang membuat Alini pergi merantau ke Jakarta.

   Pedih jika Alini harus mengingat satu demi satu, lembar demi lembar kisah hidupnya. Terlampau hitam dan getir untuk dikenang. Pekerjaan yang dijanjikan oleh kawan ayahnya yang ada di kota tak pernah nyata. Hanya penderitaan dan penyiksaan yang ia dapat di megah angkuhnya ibu kota. Bahkan beberapa kali Alini diperkosa.

     Tak ada lagi orang baik baginya. Semua orang yang awalnya menolongnya, seolah bersimpati tapi nyatanya hanya berpura-pura saja. Mereka sama binatangnya. Sejak itu, pupus sudah mimpinya membawa sebentuk kebahagiaan, kebanggaan bagi Ibu dan adiknya. Dan kini ibunya telah meninggal juga.

    Orang-orang di kampungnya mengatakan kalau Alea sempat tinggal dengan pamannya dan menjalin hubungan dengan seorang pengusaha sukses dari Jakarta. Sampai akhirnya Alea menikah dengan lelaki itu. Sesungguhnya Alini bersyukur dengan hal itu.

   Jika para penjaja seks yang mungkin sering berkilah demi mencari sesuap nasi maka Alini lebih karena frustasi. Ketegarannya telah habis. Alini takan sanggup menatap wajah ibunya. Hidupnya benar-benar telah hancur.

   Perlahan ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menembus sesaknya setan-setan sesamanya yang tak berhenti melompat-lompat, berjoget lupa daratan. Alini berjalan dan duduk di bangku luar. Di seberang jalan sana lebih banyak lagi wanita-wanita yang sama sepertinya. Berdiri sampai subuh menunggu pria-pria hidung belang datang melintas.

   Perbedaan dengan dirinya atau dengan Bella, Mia, Kysa teman-temanya itu hanyalah ia bekerja melalui tangan Mama Esi yang telah lama mengelola bar dan bisnis itu. Alini kerap melayani pengusaha-pengusaha besar dan tentu saja Alini menjadi anak emas Mama Esi karena Alini cantik dan banyak peminatnya.

  Bagi Alini, hidup sama sekali bukan pilihan. Entah kenapa, meskipun semua orang sepakat mengatakan hidup adalah sebuah pilihan, tapi hidupnya telah lebih dari sekedar memberinya pemahaman. Tiba-tiba seorang lelaki gendut yang baru keluar dari bar juga duduk di sampingnya.

“Maaf,boleh duduk di sini?” Lelaki itu berbasa-basi. Alini mengangguk.

“Alini kan? Biasanya di hotel mana?” Alini menengok, tak aneh lagi baginya orang-orang yang ia temui telah lebih dahulu mengetahui namanya dan sebagainya, karena itu merupakan pekerjaan Mama Esi. Semua anak asuhan Mama Esi selalu di foto dan di promosikan pada pengusaha-pengusaha disertai dengan biodata lengkap. Dan jika pengusaha-pengusaha itu menginginkan keterangan lebih, tentu saja bisa langsung bertanya pada Mama Esi.

    Dan Alini adalah primadona PSK. Para pengusaha-pengusaha bejat seolah berlomba-lomba ingin merasakan tubuh Alini. Mereka tak peduli meskipun uang yang harus mereka bayarkan pada Mama Esi jauh di atas rata-rata. “Iya, tapi saya sudah bilang Mama Esi, malam ini saya tidak bisa. Mungkin Om bisa dengan Mia, Bella, mereka ada di dalam.”

“O…” Lelaki itu tampak mengangguk-anggukan kepala. Tampak sekali bahwa lelaki itu adalah pengusaha sukses dan bersedia mengeluarkan uang berapapun untuk memenuhi keinginannya. Tiba-tiba seorang pelayan minuman berjalan ke arah Alini dari dalam bar. “Maaf Mbak Alini, dipanggil Mama Esi.”

Ya, Alini mengerti pasti Mama Esi memintanya melayani orang itu. Jika Alini sedang kehilangan mood seperti kali ini, Mama Esi akan menggunakan cara apa pun untuk membujuknya. Dan Alini selalu luluh oleh wanita yang sudah ia anggap sebagai Ibu itu. Mama Esi selalu bijak, ia tak pernah melakukan kekerasaan pada para pekerjanya. Ia bahkan akan ada di belakang mereka jika mereka harus berurusan dengan polisi.

Mama Esi selalu mengikat mereka dengan kasih sayang. Jika ada di antara mereka yang ingin keluar dari dunia hitam itu, dengan senang hati ia persilahkan. Tapi nyatanya tak ada yang benar-benar keluar dari dunia itu. Alini cepat-cepat mengangguk kemudian berdiri.

“Maaf Om, saya tinggal dulu.” Lelaki itu mengangguk.

Mama Esi sudah menunggu Alini di ruangannya dengan wajah memelas. Mungkin sudah susah payah ia siapkan. Jika kebanyakan orang semacam Mama Esi akan marah jika seorang pekerjanya tidak mau melayani pelanggan, maka berbeda dengan Mama Esi yang selalu berusaha memanja dan menjaga perasaan para pekerjanya.

“Lini, Mama tahu permohonan Mama sudah tak terhitung padamu untuk hal ini. Tapi Mama tak punya pilihan lain Lin. Cuma Lini yang bisa nolong Mama. Lini malaikat Mama.” Mama Esi seperti hendak bersujud di kaki Alini. Tapi Alini memegang tangannya. “Ma, sudahlah. Lini ngerti. Siapa yang harus Lini temenin?” Alini mencoba tersenyum di hadapan Mama Esi. Wajah Mama Esi seketika itu tersenyum dan memeluk Alini.

“Pak Enru, dia pengusaha dari perusahaan besar. Banyak sekali jasanya bagi Mama. Beliau yang mempromosikan kalian pada teman-temannya. Tadi beliau berjalan ke luar bar.” Mama Esi mengajak Alini duduk dan melanjutkan, “Kamu ingat, kemarin waktu kita sibuk, Mia ke Surabaya, Bella dan yang lainnya ke Bali. Di sana ada big party. Cuma kamu yang tersisa di sini kan? Sengaja kamu Mama liburkan. Dan itu juga permintaan beliau Lin. Pak Enru sudah lama memesan kamu. Jangan takut, beliau orang baik.” Mama Esi menasehati seperti seorang Ibu.

“Dan apa kamu tega mengecewakannya? Ini ada sedikit uang untuk kamu.” Mama Esi memasukan sebuah bungkusan coklat berisi uang itu ke dalam tas Alini. Alini hanya mengangguk. “Ma, selama ini Mama yang telah menolong Lini. Dan Lini gak akan bikin Mama sedih.”

“Makasih Lin Mama tahu itu.” Keduanya berpelukan erat dan Lini beranjak keluar menuju bangku yang sebelumnya ia duduki.

Ia tahu lelaki yang menyapanya tadi adalah Pak Enru yang Mama Esi maksudkan itu. Dan di bangku itu, lelaki tadi masih terduduk dan sesekali menghembuskan asap rokok dari mulutnya. “Maaf Om, saya bisa.” Lelaki itu sedikit terkejut dan segera mematikan rokoknya. “Sudah siap?” Lini menjawabnya dengan anggukan kepala. Keduanya segera meluncur ke sebuah hotel.

Sebetulnya hal yang paling Alini takutkan adalah ia tak mampu lepas dari dunia hitamnya saat ini. Mama Esi pun terlalu membutuhkannya. Apakah ia akan benar-benar selamanya menjadi seorang pelacur? Menghabiskan usianya di bar dan hotel? Dan bertahan dengan sindiran semua orang tentang dirinya yang di sebut sebagai wanita jalang? Ah sesuatu yang terkadang hanya membuat Alini tak berselera untuk makan atau membuat ia tak bisa tidur dengan nyenyak di rumahnya.

Keduanya telah sampai di kamar hotel. Tak ada ritual-ritual aneh. Sepertinya Enru adalah lelaki yang tak suka bertele-tele. Lelaki itu sama sekali tak memperlakukan Lini dengan kasar. Semua terjadi dengan singkat. Dan Enru benar-benar merasakan kepuasan dari wanita cantik itu. Sementara seperti biasa Alini tak merasakan perasaan yang berbeda. Selalu kosong. Tak pernah ada hati untuk pekerjaannya ini.

Enru segera berkemas dan membuka dompetnya untuk mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dan memberikannya pada Alini. Hanya untuk sekedar bonus karena pembayaran yang sesungguhnya sudah diberikan pada Mama Esi. Dan alangkah terkejutnya Alini ketika sekilas ia sempat melihat dengan jelas foto di dompet lelaki itu. Hatinya berkecamuk. Ia tak segera berpakaian. Ia menatap punggung lelaki itu yang kini telah mengenakan jas kembali.

“Alini, terima kasih. Bagaimana akan saya antar ke Esi’s bar lagi? Atau mau pulang ke rumah? Juga bisa saya antar. Kamu berpakaian dulu. Akan saya tunggu.” Suara Enru membuyarkan lamunan Alini. Akhirnya Alini memberanikan diri untuk bertanya, “Om Enru, apa saya boleh bertanya?”

“Oh tentu. Tidak apa-apa. Kamu mau tanya apa?”

“Maaf kalau saya lancang Om, kalau boleh saya tahu, foto yang ada di dompet Om itu siapa?” Lelaki itu kembali mengambil dompetnya yang sudah ia masukan ke saku celananya. “Ini?” Lelaki itu mengambil foto dari dompetnya itu dan memperlihatkannya pada Alini. Sekali lagi dada dan hati Alini berkecamuk. “Ini Alea, istri saya. Kenapa? Cantik ya? Wajahnya mirip sama kamu, tapi lebih cantik kamu kok.”

   Tiba-tiba Alini bagai di sambar petir mendengar semua itu. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang telah ia dengar dan apa yang telah terjadi. Adik satu-satunya yang ia cari, yang ia sayangi dan ia rindukan. Adiknya yang dikabarkan menikah dengan seorang pengusaha sukses yang baik dan sempat membuatnya bahagia, bahkan ia pernah berjanji pada Tuhan, sepahit apapun jalan hidupnya yang ia terima, ia takan menceritakannya pada Alea asalkan Alea benar-benar hidup bahagia.

   Dan ia ingin sekali menemukan Alea. Memeluknya, untuk sekedar memastikan bahwa Alea benar-benar bahagia, tak sepertinya. Lalu setelah menemuinya, telah ia rencanakan ia akan benar-benar pergi dan menghilang. Tak akan lagi di temukan Alea. Biar semuanya terkubur saja.

   Tapi kini, setelah selama ini ia tak berhasil menemukan Alea, dengan mudah ia dapat menemukannya dari lelaki yang telah menidurinya. Tapi semuanya benar-benar tak dapat ia percaya. Kenyataan di hadapannya membuatnya jatuh dan kalah. Ia tak sanggup menghadapi hatinya.

   Lelaki yang di anggap baik tak lebih baik dari semua lelaki hidung belang yang telah menidurinya. Dan tentu Alini tahu bahwa tidak mungkin jika Enru hanya pernah berhubungan badan dengannya, pasti juga dengan wanita-wanita pelacur lainnya. Lalu jika Alea tahu bahwa suami yang ia cintai itu telah melakukan semua itu dengan wanita-wanita pelacur bahkan dengan kakaknya sendiri, akan seperti apakah perasaannya?

  Tak di sadarinya Lini menangis. Air matanya mengalir deras. Enru melihat itu dengan panik. Ia berusaha menenangkan dan bertanya pada Alini. Tapi semuanya sia-sia. Alini dalam keadaan perasaan yang tak menentu. Segala perasaannya menjadi satu. Antara benci pada Enru, benci pada dirinya sendiri, pada Mama Esi, menyesal, dan perasaan lain yang tak mampu ia artikan satu-satu.

   Alini tak lagi sadar ia masih telanjang ketika ia berdiri dan menyuruh Enru meninggalkannya. Alini menangis dan bersandar di pintu kamar hotel itu. Sementara Enru berlalu dengan sejuta pertanyaan dan ketidakmengertiannya. Alini masih tersedu. Lagi-lagi semuanya membuktikan, Tuhan terlalu kejam dan hidup bukanlah suatu pilihan untuknya.

:
Riyan Putra

Tangerang 20 Mei 2009

artikel-berkualitas

Banyak orang membutukan informasi ini. Bagikan artikel GRATIS ini sekarang juga. . .

Related Post


Cerpen – Para Pembunuh dari Masa Lalu
Cerpen – Para Pembunuh dari Masa Lalu

         Ragion menutup telinganya. Ia terduduk di tempat tidur kamarnya.…

Cerpen – Aragea, Malam Tanpa Jeda (Bagian 1)
Cerpen – Aragea, Malam Tanpa Jeda (Bagian 1)

         Sebuah api unggun besar menyala di…

Cerpen – Kristal Hujan
Cerpen – Kristal Hujan

        Igo, seorang lelaki muda berkemeja abu-abu…

Tips Mudah Menulis Cerpen
Tips Mudah Menulis Cerpen

Banyak yang mengatakan menulis cerpen itu sulit. Mudah atau sulit tentu…