Home  /  Seni  / Cerpen: Kisah Lelaki Ikan

Cerpen: Kisah Lelaki Ikan


Cerpen: Kisah Lelaki Ikan

      Namanya Galung. Mereka menyebutnya lelaki ikan. Meskipun sebetulnya mereka tak pernah menyaksikan dengan kepala mereka sendiri lelaki itu mewujud ikan. Bermula dari cerita seorang nelayan yang menyebar dari mulut ke mulut dan menjadi banyolan orang-orang pesisir yang pembual di pojok-pojok warung kopi. Mereka bercerita dengan lancar dan sungguh-sungguh seolah-olah yang mereka bagikan itu adalah pengalaman yang benar-benar terjadi dan harus diceritakan. Terkadang suara pencerita itu begitu lantang dan berapi-api lalu tiba-tiba menjadi pelan dan tak lama kembali berapi-api lagi begitu berganti-ganti penuh intuisi.

      Mereka tak ubahnya aktor teater atau pendongeng kawakan yang sedang manggung. Malah terkadang ada juga diantara mereka yang melengkapi leluconnya dengan mengaku-ngaku saat pagi-pagi buta ia melaut, dia pernah melihat lelaki ikan itu berkelahi dengan paus atau mengatakan lelaki ikan itu pernah tersangkut di jaring ikannya lalu ada juga yang mengatakan ketika perahunya disesatkan arah oleh angin hingga jauh ke pulau tak berpenghuni ada ikan sebesar manusia yang ia yakini Galung menuntunnya dan menyelamatkannya kembali ke pantai pesisir. Lalu pernyataan-pernyataan itu akan ditanggapi oleh yang lain. Ada yang membantah pernyataan kalau lelaki ikan itu menolong nelayan, justru lelaki ikan itulah yang sering menyesatkan nelayan katanya. Galung itu termasuk dedemit laut. Begitu seterusnya cerita itu tak ada habisnya.

      Jika kau menempuh jalan pantai timur dan kebetulan menepi untuk melepas letih, mampirlah ke warung-warung kopi di sepanjang tepian maka beragam cerita lelucon segala versi tentang lelaki ikan itu dapat kau temui juga disana. Semuanya berhembus seperti udara di pesisir itu. Bahkan cerita tentang lelaki ikan yang sering menemui Ratri anak nelayan tua juga aku yakin pasti cepat atau lambat akan sampai juga di warung-warung kopi itu.

*

      Galung menghembuskan nafas beratnya. Baju dan rambutnya masih basah oleh air laut. Ini adalah purnama ke enam ia menepi dan hanya mendapati rumah nelayan tua itu menjadi sunyi. Tak lagi ia melihat seorang gadis yang selalu duduk di atas perahu menantinya dengan setia. Galung tak pernah tahu Ratri beserta keluarganya pergi ke mana. Ia hanya sering mendengar obrolan-obrolan nelayan yang mengatakan Ratri gadis pesisir yang jelita itu menikah dengan orang kota dan ia beserta keluarganya diboyong ke kota tempat lelaki itu tinggal.

    Galung menatap lepas hamparan laut yang masih gelap. Dadanya terasa sesak saat mengenang semuanya. Mereka berdua telah banyak menghabiskan malam dengan pertemuan dan cerita. Bagi Galung, Ratri seolah mutiara yang dengan sendirinya bersinar. Menciptakan rindu di setiap arungannya.

     Pertemuannya dengan Ratri telah memberinya sesuatu keindahan dan semangat hidup yang sulit ia artikan. Dan kini ia telah kembali pada kenyataan. Ia telah kembali pada sepi dan kesendiriannya yang panjang. Ia akan kembali pada hidupnya yang kosong dan membentang seperti kutukan. Tak ada lagi seorang yang akan mendengarnya bercerita tanpa mengintrogasi dengan kejam makhluk apa sebenarnya ia yang selalu datang dari tengah laut dan tak mampu bertahan terlalu lama tanpa air itu.

 Bagi Ratri sendiri, Galung adalah lelaki misterius yang entah datang dari mana. Setiap kali ia menanyakannya, Galung menjawabnya dengan bergurau dengan mengatakan bahwa ia datang dari balik laut itu sembari tangannya menunjuk ujung laut yang seolah tak bertepi itu. Maka Ratri pun akan tersenyum dan kembali membiarkan hatinya tak peduli dan tak mempertanyakan asal-usul lelaki itu lagi. Seperti ia yang tak peduli jika Galung selalu menemuinya dengan baju dan rambut yang basah seolah sehabis berenang padahal malam-malam buta. Lalu baju itu nanti akan kering dengan sendirinya selama mereka berbincang.

      Galung selalu berpamitan ketika langit hampir fajar dan mereka akan kembali bertemu sesuai perjanjian waktu yang mereka tentukan. Karena tak setiap malam Ratri bisa beralasan pergi ke pasar malam pada orang tuanya. Bagi Ratri, Galung pencerita yang hebat yang selalu membuat ia rindu akan cerita-ceritanya. Maka ia tak pernah melewatkan satu perjanjian pertemuan pun sebelumnya. Meskipun ia harus memutar otak untuk membuat alasan-alasan yang masuk akal pada orang tuanya untuk sekedar bertemu dengan Galung.

***

   Galung kembali menarik nafas yang masih berat. Ia harus pergi sebelum nelayan mendatangi pantai. Kembali beberapa saat matanya melihat ke arah rumah gadis itu. Ia meyakinkan hatinya jika itu terakhir kalinya ia menepi ke pantai itu. Enam purnama sudah ia memberi kesempatan pada keajaiban barangkali bisa membawa Ratri kembali. Tapi kini ia tahu, keajaiban terlampau jauh untuk menyentuh doanya.

     Kenangannya di pantai itu telah habis. Ia sadar, Ratri berhak memilih hidupnya. Ia berhak menentukan kapan ia akan mengakhiri pertemuan dengan lelaki yang tak jelas itu dan pergi kemanapun ia mau. Bahkan ia berhak menentukan siapa lelaki yang bakal menjadi pendampingnya.

  Sekarang langit telah hampir fajar. Sesungguhnya ia hanya membutuhkan kepastian dan jawaban. Bukan kepastian dan jawaban atas cintanya pada gadis itu melainkan hanya kepastian bahwa Ratri hanya pergi untuk beberapa lamanya saja atau mungkin sebaliknya, ia pergi tak akan pernah kembali ke pesisir itu lagi.

    Ia tak mengerti kenapa Ratri pergi tanpa pesan apapun. Yang ia rasakan hanya  sunyi yang tiba-tiba. Bagaimana jika suatu saat Ratri memang kembali? Dan cerita nelayan-nelayan itu hanya bualan semata? Sedangkan ia sudah pergi jauh menempuh laut tanpa ujung. Bukankah ia yang kini jadi penghianat itu?

   Langkahnya tak langsung menuju laut. Ia biarkan kakinya menapaki pasir pantai seolah ingin menulis segala kegalauan hatinya di pantai itu. Matanya nanar menatap laut yang semakin remang karena fajar. Kali ini sepertinya ia agak terlambat untuk pergi. Tapi tak apa. Tak akan ada nelayan yang mengenalinya sesungguhnya.

     Ia merasa berat meninggalkan pantai itu dan memulai perjalanan panjangnya yang sunyi dan tak mengenal daratan lagi. Leleh juga air matanya seperti embun. Buru-buru ia mengusap dengan tangannya. Tak boleh ada kesedihan itu, pikirnya.

   Seharusnya ia bahagia karena sudah mendapat kesempatan mengenal Ratri beberapa waktu lamanya. “Ah aku makhluk yang tak tahu diri” gumamnya menyesali diri. Rumah Ratri sudah semakin tak terlihat. Tapi ia tetap saja merasa ada sesuatu yang tetap membekas disana. Langkahnya semakin jauh menapaki pantai itu.

aku tiba sebagai buih

langit telah penuh pelangi

dan rumahmu menjadi sunyi

hanya kutemuakan  jejakmu di pasir pantai menjadi puisi

Ratri

musim peri berganti sayap telah kembali

anak-anak bintang pun telah menunggu kita buatkan nama

sedangkan  purnama mengulangi kegetiranku keenam kalinya

kemana engkau pergi?

tak akankah lagi kembali?

Ratri

aku tak bisa mencari pantai selain pesisir ini

mungkin juga tak akan menemukan penghuni pantai di manapun seramah kau

mau menjabat tanganku tanpa ragu

mendengar kisahku tanpa cemooh

Ratri

maafkan aku tentang sesuatu yang diam-diam selalu kusembunyikan

tentang rasa ini yang tak bisa untuk hilang

bergulung seperti ombak menerpaku

meski berulang kali aku yakinkan

kau hanya mengagumi  cerita-ceritaku

bukan sisik ikan di punggungku

dan tak akan  sampai hati juga aku melihat kau menangis menyesali

pernikahan yang selalu aku hayalkan (maafkan aku jika aku lancang menghayalkan itu)

Ratri

selamat tinggal

jika benar cerita nelayan-nelayan itu

aku doakan semoga kau bahagia di kota sana

mungkin aku akan selalu merindukanmu

tapi biarlah rindu ini menemani  arunganku

sepanjang apapun nanti

iya… sepanjang apapun nanti

:

Riyan Putra

Jakarta, 29 agustus 2010

artikel-berkualitas

Banyak orang membutukan informasi ini. Bagikan artikel GRATIS ini sekarang juga. . .

Related Post


5 Proses Berkarya Seni Lukis
5 Proses Berkarya Seni Lukis

Anda tentunya sudah tahu bahwa karya seni rupa dua dimensi memiliki…

Cerpen – Di Bawah Hujan Senja
Cerpen – Di Bawah Hujan Senja

          Hujan lebat mengguyur kota sore…

Cerpen – Para Pengejar Bayang-bayang
Cerpen – Para Pengejar Bayang-bayang

        Senja menimpa kota. Seminggu sudah matahari…

Tips Mudah Menulis Cerpen
Tips Mudah Menulis Cerpen

Banyak yang mengatakan menulis cerpen itu sulit. Mudah atau sulit tentu…