Home  /  Seni  / Cerpen – Kristal Hujan

Cerpen – Kristal Hujan


Cerpen – Kristal Hujan

        Igo, seorang lelaki muda berkemeja abu-abu dan berpenampilan rapi berdiri berdesakan di sebuah halte bus .Itu telah menjadi rutinnitas sorenya selama beberapa tahun belakangan ini. Igo bekerja di sebuah perusahaan desain grafis terkemuka Jakarta. Igo memang terlahir untuk dunia itu. Sejak kecil ia tergila-gila dengan semua yang berhubungan dengan gambar. Sore ini langit berwarna jingga tapi tak lama gerimis menghapusnya. Memaksa semua pejalan kaki berteduh sejenak di semua tempat yang bisa digunakan untuk berteduh. Seharian ini udara memang panas melebihi panas Jakarta biasanya.

      Pandangan mata Igo lurus menatap pantulan-pantulan air hujan di atas aspal, roda-roda mobil yang hitam bersih menimbulkan bunyi ketika direm, sesekali bunyi klakson mobil yang angkuh, lagu hilang dari java jive yang di putar mp3 player seorang  mahasiswa yang berdiri disampingnya, semuanya seolah memberikan ribuan rasa yang sulit ia artikan di senja yang mengagumkan ini.

        Tiba-tiba pikirannya melayang mundur ke belasan tahun silam. Sama seperti hari ini, saat itu pun dalam senja gerimis seorang Igo berusia dua belas tahun yang menggigil di dalam lubang gorong-gorong besar yang tertumpuk tinggi di tanah kosong area pembangunan sebuah mall. Waktu itu sudah tiga hari Igo pergi dari rumah Om dan tantenya. Ia tak tahan menyaksikan pertengkaran mereka setiap hari. Yang ada kalanya pertengkaran itu menyangkut dirinya. Igo tinggal bersama mereka sejak usia lima tahun setelah neneknya meninggal. Sebelumnya ia harus tinggal bersama neneknya sejak bayi karena  Ibunya memang meninggal dunia saat melahirkannya, sedangkan ayahnya pergi entah ke mana meninggalkan Ibunya waktu itu.

       Dari dalam gorong-gorong besar itu ia bisa melihat dari kejauhan kesibukan orang-orang yang bekerja dalam pembangunan mall itu. Mereka bekerja sesuai dengan tugasnya sendiri-sendiri dan yang paling mengagumkan bagi Igo tentu arsitektur dan rancangan mall megah itu. Kini ia memutar pandanagannya ke lubang gorong-gorong satu lagi. Ia melihat seorang gadis yang usianya mungkin empat tahun diatasnya yang berlari kecil dan sesekali melompat-lompat riang tanpa beban. Seolah tak peduli dengan bajunya yang basah kuyup oleh hujan. Ia tersenyum sendiri ketika gadis itu menari dan sesekali terjatuh ketika menangkap kupu-kupu di rerumputan.

       Beberapa menit lamanya Igo terpesona oleh pemandangan itu. Ia terperanjat ketika gadis itu ada di depan lubang gorong-gorong tempatnya duduk memeluk lutut itu. Gadis itu tersenyum dengan manis  dan mengulurkan tangan mengajak Igo ikut berlari menikmati hujan. Sesaat Igo tampak berfikir. Ia melihat tubuh gadis itu yang sudah basah kuyup tapi tak menggigil sedangkan ia yang dari tadi berada di dalam gorong-gorong itu saja sudah merasakan hawa dingin. Igo memutuskan untuk keluar mengikuti langkah gadis itu.

      Mereka berlari membiarkan tetes-tetes hujan menimpa wajah mereka yang merindukan kebebasan. Igo tampak berdiri canggung ketika gadis itu mengajarinya menari. Keduanya tertawa karena Igo dengan ragu-ragu mengikuti gerakan gadis itu tapi dengan gerakan yang kaku. Udara benar-benar dingin sejuk. Langit pun putih bersih seperti kapas.

        Perhatian gadis itu kembali tertuju pada serangga-serangga kecil yang seolah ikut menari riang di rumput yang basah. Mereka pun sepakat untuk berlomba menangkap dan mengumpulkan serangga-serangga itu. Gadis itu mengeluarkan dua buah plastik dari dalam tas kecilnya dan memberikannya satu pada Igo lalu meniupnya. Igo dengan tertawa mengikutinya. Dan untuk beberapa saat lamanya mereka menikmati  perlombaan menangkap serangga itu. Sesekali mereka berebut target buruan yang berujung dengan saling kejar dan usir. Hujan membuat serangga-serangga kecil itu tak terlalu lincah menghindari tangan-tangan keduanya yang menangkap mereka dengan halus dan tak menyakiti mereka sama sekali. Maka untuk sejenak mungkin serengga-serangga kecil itu akan merasa hangat di dalam plastik itu. Igo memasukan serangga terakhirnya. Kini plastik mereka  sudah penuh berisi serangga kecil yang berontak ingin merasakan kebebasan kembali.

     Hujan sudah reda. Keduanya kembali berkejaran dan bercanda setelah masing-masing mengklaim dirinya yang paling banyak menangkap serangga. Setelah mereka kehabisan tenaga untuk berlari lagi keduanya terduduk di atas rumput. “Eh ngomong-ngomong siapa nama kamu?” gadis itu menoleh setelah memasukan serangga terakhir miliknya. “Igo” “Kamu tahu gak Go, aku suka banget sama hujan. Bagi aku hujan itu jawaban langit.”

“Maksudnya?” Igo menoleh dengan wajah tak mengerti. Gadis itu tersenyaum “Aku sering bertanya tentang segala hal pada langit dan aku akan kesal jika aku tak menemukan jawabannya di sana karena langit hampir selalu terlihat sama. Maka bagi aku hujan adalah jawaban dia. Jawaban ketika aku bertanya tentang kabar ibuku di surga, jawaban untuk semua pertanyaan atas mimpi-mimpiku.” Gadis itu tercekat. Pandangannya lurus menatap langit yang bersih di hadapan mereka. Ia benar-benar terlihat cantik. Igo pun menatap langit yang putih itu. Hatinya perih ketika menyadari ia pun tak mengenal seorang Ibu dan Ayah dari pertama ia melihat dunia ini tapi ia tak mempunyai kekuatan untuk bercerita. Ia menarik nafas dan menenggelamkan kesedihannya itu.

       “Pokoknya aku suka hujan, aku suka rintik-rintik air yang jatuh dari ketinggian langit”  “Bukannya air hujan berasal dari air laut juga?” sanggah Igo.

   “Iya, tapi air hujan itu udah beda dengan air laut, air itu udah melewati banyak proses dan peristiwa di atas sana. Air itu sudah melakukan perjalanan panjang. Mencoba banyak keajaiban. Seperti terbang meski tak bersayap, tidur di awan, melintasi macam-macam udara, melihat kita dari ketinggian. Jadi dia banyak pengalaman dan saat dia akan kembali ke sini ia mungkin banyak membawa pesan dari atas sana.” Gadis itu menunjuk langit. Igo tersenyum dan mengangguk. “Oh ya, ayo kita lepaskan serangga-serangga ini lagi!” Gadis itu berkata dengan yakin. Igo menoleh dan mengangguk. Keduanya berdiri dan dengan hitungan aba-aba mereka membuka plastik berisi serangga itu ke udara secara bersama-sama. Serangga-serangga itu pun terbang berhamburan. Keduanya tersenyum lepas menikmati kebahagiaan serangga-serangga yang bebas itu.

      Keduanya berjalan ke gundukan tanah rumput yang agak tinggi dan duduk. Keduanya masih menikmati iring-iringan serangga-serangga itu. “Kebebasan itu indah banget ya?” Igo berkata datar dan menghembuskan nafasnya yang berat. Gadis itu mengangguk. Igo menghirup nafas panjang lagi. Udara sejuk memenuhi paru-parunya. Begitu dingin dan menyegarkan. Matanya terpejam menikmati kedamaian itu.

 “Lihat Go, ada pelangi.” gadis itu berteriak riang. Igo membuka matanya dan tersenyum, “Iya indah sekali.” “Menurutku Pelangi itu pesan baik yang dibawa hujan.” Gadis itu berkata yakin. Keduanya terpesona oleh warna-warna ajaib di langit senja itu.

       Keduanya berdiri dan berlari ke ujung tanah kosong itu untuk melihat pelangi lebih dekat. Igo menoleh pada gadis itu yang memejamkan mata di sampingnya. “Kamu sedang apa?” tanya Igo. “Berdoa untuk mimpiku, kamu juga berdoa aja untuk mimpi kamu.” Igo dengan ragu-ragu mengikuti gadis itu memejamkan mata dan menelungkupkan telapak tangan di depan wajahnya. “Mimpi adalah tak terbatas maka jangan batasi mimpi kamu.” Gadis itu berkata tanpa menoleh pada Igo. Pandangannya masih lurus pada pelangi di depan mereka.

      Perlahan-lahan pelangi itu memudar seperti waktu yang memaksa menghentikan kegembiraan mereka saat itu. Keduanya menatap langit yang kini semakin gelap karena Matahari telah jauh menempuh barat. “Aku harus pulang.” Gadis itu menoleh pada Igo.

       Keduanya berjalan diikuti bayangan mereka ke arah gorong-gorong tempat duduk Igo semula. Lalu gadis itu berjalan dan menjauhi Igo yang menyandarkan punggungnya di lekukan gorong-gorong yang besar itu. Dari jauh gadis itu melambaikan tangannya pada Igo.

       Igo memanjat satu persatu lekukan dan lubang gorong-gorong itu untuk mencapai gorong-gorong paling tinggi. Setelah ia duduk di atasnya, ia teringat sesuatu yang seolah terlupa. Dengan segera Igo berdiri dan berteriak pada gadis itu sebelum gadis itu benar-benar hilang. “Heiiii teman…siapa nama kamu?” Suara Igo menggema memenuhi udara senja. Gadis itu menoleh dan melihat Igo melambai-lambaikan tangannya. “Kristaaaal” suara gadis itu membalas bergema. Lalu gadis itu semakin samar dan hilang ditelan kegelapan senja.

      Igo masih terduduk di atas gorong-gorong menikmati sisa-sisa cahaya matahari yang telah gelap. Beberapa pekerja yang hendak pulang melintas di depan gorong-gorong itu. Seorang Bapak diantaranya berhenti di dekat gorong-gorong itu lalu berseru pada Igo. ” Hei Nak, sudah sore, pulang, nanti kamu dicariin Ayah Ibu kamu!” Bapak itu berkata seperti itu mungkin karena penampilan Igo memang tak seperti anak-anak jalanan yang menggelandang karena tak punya tempat tinggal.

       Igo menoleh ke bawah pada Bapak itu dan mengangguk ramah. Tapi entah kenapa Bapak itu tergelitik pula untuk bercakap dengan Igo. Ia melambaikan tangan ke arah teman-temannya yang artinya mempersilahkan mereka pulang lebih dulu.

      Bapak itu menaiki gorong-gorong dan duduk di sebelah Igo. “Nak, Bapak lihat sudah beberapa hari ini kamu main di tempat ini?” “Iya Pak, maaf kalau mengganggu pekerjaan Bapak.” Bapak itu tersenyum mendengar jawaban Igo,” Bukan begitu, hanya saja di sini kan berbahaya untuk anak seusia kamu.” Kini Igo yang tersenyum. “Memang rumah kamu di mana?” Bapak itu bertanya pada Igo dan Ia geleng-geleng kepala ketika mendengar nama kota yang di sebutkan Igo.

  “Lalu kenapa kamu bisa sampai di tempat ini?” Igo pun menceritakan semuanya. Sesekali Bapak itu mengangguk-anggukan kepala, menatap Igo dengan iba, menggelengkan kepala dan ekspresi lainnya. “Sekarang kamu udah makan?” Bapak itu menepuk pundak Igo. Igo menggeleng. Bapak itu mengeluarkan sepotong roti dari dalam rantangnya dan memberikannya pada Igo yang langsung menyantapnya dengan lahap.

    Mereka terus berbincang sementara langit telah benar-benar gelap. Lampu-lampu kota telah menggantikan matahari sebagai pemberi cahaya. Udara masih basah dan mungkin karena itu bulan masih enggan menampakan tubuhnya. “Oh ya, tadi waktu hujan Bapak lihat kamu loncat-loncat, ketawa, dan ngomong sendiri. Kamu sedang apa itu?” Seketika itu Igo menoleh cepat pada Bapak itu. “Saya tadi main sama Kristal Pak.” “Siapa itu Kristal?” “Teman baru saya. Saya tidak tahu siapa dia, tadi saya ketemu dia di sini saja, dia yang ngajak saya main dan menangkap serangga.”

    “Tapi tadi Bapak sama temen-temen Bapak gak lihat siapa-siapa di sini kecuali kamu yang ngomong sendiri Nak.” Igo terdiam. Bapak itu membaca ketakutan Igo. “Ya sudah, barang kali memang Bapak dan teman-teman Bapak yang gak liat, karena kami kan memang melihat ke arah sini cuma sekilas waktu kami melepas lelah saja.” Igo mengangguk. “Malam ini kamu mau nginep di rumah Bapak? Rumah Bapak tidak jauh dari sini.” “Makasih Pak, Saya Disini saja dulu.” “Ya sudah hati-hati ya. Bapak pulang dulu.” Igo mengangguk.

      Hari berikutnya dan seterusnya Bapak itu terus menasehati Igo supaya pulang ke rumahnya dan akhirnya Igo memutuskan pulang. Om dan tantenya memang selama seminggu itu sangat khawatir dengan kepergian Igo. Mereka pun tak berhenti mencari Igo ke mana-mana. Dan untuk pertemuan Igo dengan Kristal hanya terjadi satu kali saat itu saja. Terkadang Igo merasa rindu juga dengan Kristal. Sampai hari ini Igo sering mengunjungi tanah kosong yang kini sudah di sulap menjadi mall megah itu tapi ia tak pernah lagi bertemu dengan Kristal. Dan jika ia berfikir tentang kebenaran perkataan Bapak itu waktu itu ia hanya bisa mengatupkan matanya dan mengenang saat-sat itu. Jika memang benar kristal bukan manusia seperti dirinya maka seperti dalam cerita-cerita mungkin usia gadis itu akan tetap dan tak bertambah. Mungkin sekarang jika ia bertemu dengan Kristal maka ia akan lebih tua darinya.

      Kini hujan sudah reda dan menyisakan hawa yang sejuk menyentuh pori-pori kulit Igo yang masuk dari jendela Bus kota yang melaju itu. Pandangan mata Igo menerobos ke luar jendela. Ia melihat langit yang bersih dan mencoba menuangkan sisa ingatannya untuk melukis wajah kristal di sana. “Kristal, aku kangen banget sama kamu.” Igo  bergumam pelan dan memejamkan matanya. “Makasih udah nunjukin aku sesuatu yang sederhana tapi berarti banget buat hidup aku Kristal.” Igo membuka mata dan mengepalkan tangannya. Mimpi adalah tak terbatas maka jangan batasi mimpi kamu.”

 :

Barat Jakarta, 20 Agustus 2010

Riyan Putra

artikel-berkualitas

Banyak orang membutukan informasi ini. Bagikan artikel GRATIS ini sekarang juga. . .

Related Post


Cerpen – Senandung Gerbong
Cerpen – Senandung Gerbong

          ♫♫  “Tangis yang beku mengalir…

Cerpen – Di Bawah Hujan Senja
Cerpen – Di Bawah Hujan Senja

          Hujan lebat mengguyur kota sore…

Cerpen – Aragea, Malam Tanpa Jeda (Bagian 1)
Cerpen – Aragea, Malam Tanpa Jeda (Bagian 1)

         Sebuah api unggun besar menyala di…

5 Proses Berkarya Seni Lukis
5 Proses Berkarya Seni Lukis

Anda tentunya sudah tahu bahwa karya seni rupa dua dimensi memiliki…