Home  /  Seni  / Cerpen – Para Pembunuh dari Masa Lalu

Cerpen – Para Pembunuh dari Masa Lalu


Cerpen – Para Pembunuh dari Masa Lalu

         Ragion menutup telinganya. Ia terduduk di tempat tidur kamarnya. Beberapa kali tangannya meraih bantal dan benda-benda di meja samping tempat tidurnya lalu melemparkannya. Gitar yang semula tergantung di tembok pun kini telah hancur berantakan di lantai setelah ia menghantamkan gitar itu ke meja. Terkadang Ragion memang tak dapat mengendalikan jiwanya. Perlahan-lahan bibirnya tak lagi gemetar tapi pandangan matanya masih kosong.

      Handphone di kasurnya menyala, tampak sebuah nama tertera di layar handphonenya, Delta. Tapi Ragion tak sedikitpun meliriknya. Pandangannya tetap tak berarah. Ia tampak seperti mengenang sesuatu tapi sekaligus melawannya. Kenangan-kenangan masa lalunya baginya adalah musuh yang sangat ia kenali. Datang dan menyerang seperti tajamnya ujung-ujung cahaya yang menembus rumahnya yang sunyi itu. Rumah yang ia diami hanya sendiri di sebuah tempat yang teramat jauh dari kehiruk pikukkan manusia.

     Di sebuah padang-padang luas berdebu yang teramat gersang  dengan pohon-pohon yang tumbuh meranggas. Tempat itu adalah area perumahan yang sudah sangat lama ditinggalkan para penduduknya. Tempat yang bisa di sebut reruntuhan kota itu hanya meninggalkan sedikit bangunan dan tanda-tanda bahwa dulu di tempat itu pernah ada kehidupan.

       Di bawah sebuah kincir angin raksasa yang sudah tidak berfungsi tapi baling-balingnya masih berputar, sebuah bangunan masih tampak bertahan dan bangkai-bangkai mobil serta tumpukan-tumpukan besi yang tak lagi bisa dikenali dari alat apa sebelumnya. Tempat itu lebih mirip timbunan barang-barang bekas.

       Tampak lima orang lelaki berpakian jas hitam panjang menyerupai jubah berdiri di sekitar tempat itu. Mereka lebih terlihat seperti sekelompok mafia profesional yang akan bertransaksi. Tapi sesungguhnya mereka bukanlah mafia. Mereka berlima adalah rekan dan sahabat Ragion. Mereka bersahabat sejak kecil. Kini mereka memang terlibat dalam banyak aksi kriminalitas. Merampok, membunuh, mengacaukan pusat kota, menghancurkan gedung-gedung pemerintah dan sebagainya. Tapi mereka punya alasan untuk hal itu.

        “Gak diangkat..!” Delta meletakan handphonenya dengan putus asa. Ia melirik ke arah Bitz yang hanya mengangkat pundaknya. “Kita tunggu sepuluh menit lagi..!” Rocal berdiri dari tempat duduknya lalu mengambil senjata laras panjangnya kemudian dengan santai ia mencoba membidik-bidikkan senjatanya itu ke berbagai arah untuk mengetes lensa kekernya saja.

      Sementara Balax hanya berdiri bersandar di tembok. Sifatnya yang pendiam tak banyak bicara dan tak menyukai canda atau komentar untuk hal-hal yang remeh itu memang sudah ia miliki sejak kecil. Matanya terpejam meskipun sama sekali tak tidur yang ia lakukan semacam meditasi  dan memang ia memiliki kepekaan dengan tingkat tertinggi di antara yang lainnya.

     Delta kembali mengarahkan pandangannya ke arah jalan yang memungkinkan datangnya Ragion. Ia benar-benar merasa khawatir dengan keadaan Ragion yang sudah ia lihat sejak beberapa operasi perampokan terakhir mereka.

        Kenyataan bahwa mereka berenam adalah orang paling di cari kepolisian karena dikenal sebagai kelompok perampok dan pembunuh yang menebar teror bagi pemerintah membuat mereka berpencar menemukan tempat persembunyian sendiri-sendiri. Tak ada yang tahu keberadaan yang satu dengan yang lainnya. Tapi mereka akan bertemu di suatu tempat sesuai saat perjanjian terakhir bertemu.

      Seperti kali ini dan yang membuat Delta khawatir adalah hanya Ragion yang tak datang ke tempat perjanjian mereka itu. Terlalu banyak kemungkinan yang harus ia tebak saat ini. Vix masih duduk di atas tembok memainkan biolanya. Suaranya begitu merdu seperti musik di tanaah kesunyian yang getir. Hanya suara biola itulah yang membuatnya sedikit terhibur dan menghilangkan ketegangan detik demi detik kehidupannya. Mereka semua sebetulnya sama dengan Ragion, di bebani ketakutan dan dendam masa lalu yang selalu menyiksa dan mengganggu mereka.

    Keenamnya terlahir dari dendam dan masa lalu yang jauh dari kemanusiawian. Sebuah alasan yang membuat mereka menjadi mereka saat ini adalah bayangan ketidakadilan yang mereka terima sejak mereka kecil. Adegan demi adegan penderitaan, pembantaian sahabat, orang tua dan orang-orang yang mereka cintai yang hanya berjuang untuk sebuah kebebasan di tanah sendiri.

       Kini keenamnya adalah pemberontak, pembunuh dan penjahat. Tapi bagi sebagian orang mereka adalah pahlawan malam yang datang dan pergi seperti bayangan. Beraksi di balik topeng-topeng, pakaian yang serba hitam, bersenjata lengkap dan menyerbu gudang-gudang uang di kota. Uang-uang itu mereka bagikan pada orang-orang buangan yang miskin, uang-uang itu mereka sebarkan di atas gedung-gedung dimana pengemis dan gelandangan tidur dan bermukim di bawahnya.

        “Semuanya berangkat! Mungkin Ragion tak datang kali ini.” Rocal berdiri lalu berjalan ke arah beberapa motor besar yang tertutupi kain hitam berdebu.Vix memejamkan matanya. Ia merasakan angin dan segala misteri yang hanya mampu ia rasakan tanpa mampu ia artikan. Ia masukan biolanya pada tempatnya dan melompat turun. Delta pun ikut melangkahkan kakinya ke sana, tapi pandangannya masih tetap menatap ke arah jalan dan berharap sebuah keajaiban. Pikirannya kini bertambah galau. Operasi tanpa pemimpin, tanpa Ragion, sama sekali tak pernah terjadi sebelumnya.

        Hanya satu motor yang tampak kosong. Motor dengan warna dominan hitam dan merah itu adalah motor Ragion. Vix meletakan tas biolanya pada sebuah tempat yang telah di sediakan di motornya yang berwarna dominan hitam dan ungu itu. “Kita ke markas dulu.” Rocal berkata dan tangannya tak berhenti memutar gas untuk memanasi motor birunya. Delta menatap ke arah motor Ragion yang kosong. Entah kenapa pikirannya sulit ia kendalikan. Perlahan ia menatap satu per satu wajah keempat temannya dan ia tak bisa menebak apakah mereka pun merasakan apa yang ia rasakan atau tak sama sekali.

        Keenam motor itu adalah motor sport yang sudah di modifikasi oleh Gade, seorang sahabat mereka yang ahli dalam perangkaian dan perancangan. Seluruh peralatan operasi mereka pun di design oleh Gade. Termasuk peralatan komunikasi dan persenjataan. Tapi Gade tewas dalam sebuah penggerebegan polisi di markas lama mereka.

       Markas yang di kepung oleh lebih dari dua ratus polisi dan snaper itu hancur. Keenam motor itu sama yaitu mempunyai warna dominan hitam. Yang membedakan satu dengan yang lainnya hanyalah bagian depan dan lampu sorot serta senjata asap yang sengaja di pasang seperti knalpot. Asap itu mengandung  asam beracun dengan warna merah, hitam, ungu, putih, hijau dan biru. Kini kelima motor itu melesat di padang debu melawan terik dan angin.

        Ragion berjalan ke arah jendela kamarnya. Ia menatap hamparan debu luas seperti tak berbatas. Dari atas loteng kamarnya dengan jelas ia bisa melihat seekor elang yang terbang begitu bebas. Angin yang berhembus dan seolah bermain dengan debu-debu. Ia masih tak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Kenapa bayangan-bayangan hitam dari masa lalunya terus mengejarnya. Jeritan adiknya, tangisan ibunya, serta darah dan jasad ayahnya membuatnya kembali menangis dan terduduk lemah.

         Kelima motor itu telah sampai di markas. Sebuah bangunan tersembunyi berbentuk ruang bawah tanah. Rocal berjalan memasuki pintu markas dan diikuti yang lainnya.Setelah kelimanya berdiri berhadapan pada sebuah meja bundar yang cukup besar, mereka mendengarkan petunjuk-petunjuk dan strategi dari Rocal yang kali ini mengambil alih tugas Ragion.

para pembunuh dari masa lalu

     Kelimanya mengambil senjata-senjata di tempatnya dan berjalan ke sebuah ruangan khusus.Ada sebuah benda besar yang juga tertutupi kain hitam. Itu adalah sebuah mobil. Tanpa buang waktu mereka segera menaiki mobil itu dengan Rocal yang mengemudikannya. Mobil itu perlahan menaiki sebuah lintasan yang menanjak dan beberapa kali melewati gerbang dengan pintu otomatis kemudian mobil itu pun keluar dan melesat di jalanan berpasir.

        Beberapa letusan peluru dari pistol di tangan Ragion menghancurkan sebuah cermin di hadapannya. Tapi Ragion tak berhenti menembak cermin yang sudah hancur itu. Ia berteriak dan tubuhnya kembali gemeter. Tangannya meletakan pistol setelah peluru di dalamnya benar-benar tak bersisa lagi.

     Sementara itu mobil yang dikemudikan Rocal itu berhenti di depan sebuah gedung yang merupakan bank terbesar di kota itu. Rocal, Delta, Vix segera masuk dan menguasai gedung. Ketiganya berpencar. Beberapa pegawai segera dapat dilumpuhkan. Mereka semua panik dan ketakutan. Gedung yang mendapat pengamanan super ketat itu kini dalam keadaan darurat.

     Petugas keamanan yang menyadari adanya perampokan dari ruang pemantau yang menampung seluruh rekaman kamera pun segera membunyikan alarm yang membuat petugas keamanan yang tersebar di semua lantai dan ruang gedung itu bersiap dengan senjata mereka.

     Beberapa petugas yang menemukan Rocal segera mengepungnya dan melepaskan beberapa kali tembakan tapi Rocal sudah sangat terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Rocal mengisi penuh senjata laras panjangnya dari balik lemari tempat berlindungnya kemudian peluru yang ia lepaskan dari senjatanya dengan tepat dan akurat melumpuhkan semua petugas yang mengepungnya.

     Sementara Balax dan Bitz bertugas mengamankan keadaan di luar gedung. Mereka bertugas memantau keadaan. Di dalam gedung, Vix mengarahkan pistolnya untuk membuka gembok sebuah ruangan. Ia membuka semua brankas uang. Beberapa petugas yang berusaha menyergapnya dari belakang terpaksa harus ia lumpuhkan dengan lima pisau yang terpasang di balik jas dan sepatunya yang siap dilemparkan kapanpun dibutuhkan. Seorang petugas keamanan yang sempat mengarahkan pistolnya pun harus menerima hal yang sama. Ia terjengkang oleh sebuah pisau yang menancap tepat  di jantungnya.

        Polisi yang mendapatkan laporan tentang adanya perampokan pun segera menurunkan semua personilnya dan mengepung gedung itu. Bitz yang menyadari waktu yang mereka miliki semakin terbatas ikut masuk ke dalam gedung untuk memberikan bantuan. Di sebuah ruangan jebakan Delta harus mati-matian menghadapi petugas keamanan yang bersenjata lengkap yang ternyata jumlah mereka tak sedikit. Di ruangan lain Rocal harus membombardir penjaga yang terus berdatangan menyergapnya.

   Vix melangkah tenang di lorong gedung. Tangan kanannya masih memegang kotak biolanya sementara di pundaknya ada sebuah tas yang penuh berisi uang. Tanpa diduga beberapa petugas keamann telah berdiri di ujung lorong dan memberikan perintah agar Vix segera menyerah. Vix tak mundur sedikitpun. Pistol di tangannya yang sudah tak berpeluru lagi ia jatuhkan ke lantai dan ia tetap berjalan dengan tenang.

      Petugas keamanan sedikit heran dan mengulangi himbauannya agar Vix berhenti melangkah dan menyerah tapi Vix sama sekali tak terpengaruh. Ia tetap berjalan. Semakin dekat dan semakin dekat. Semua petugas keamanan itu kini bersiap dengan senjata mereka. Jari-jari tangan Vix perlahan menekan tombol pembuka tas biolanya dan dengan cepat sebuah senjata laras panjang telah berada di tangannya dari balik tas biola itu. Dalam waktu yang sangat singkat petugas-petugas keamanan itu terjungkal oleh tembakan Vix.

     Balax berusaha mengendalikan polisi yang terus berdatangan dan mengepung gedung itu dari semua sisi. Tampaknya mereka benar-benar tak ingin kembali melepaskan perampok paling dicari tersebut. Balax menembakan senjata dengan peluru berdaya ledak tinggi ke arah mobil-mobil polisi dan barisan polisi yang mengepung dari luar.

      Sementara di dalam gedung, Rocal menyadari polisi telah berhasil memasuki gedung dari pintu belakang, ia bergegas keluar dengan tas berisi uang di pundaknya. Tapi ia tak menyadari ketika seorang polisi yang bersiap melepaskan tembakan ke arahnya. Deep.. sebuah peluru meluncur dengan cepat dari pistol dengan peredam bunyi. Polisi itu kini terjungkal. Ternyata peluru dari pistol di tangan Bitzlah yang lebih dulu melumpuhkan polisi itu. Ia datang tepat pada waktunya.

    Kini Rocal, Bitz, Delta dan Vix telah sampai di lorong depan lantai bawah. Polisi yang telah berada di dalam gedung segera mengevakuasi semua petugas keamanan bank yang tertembak.

    Sebuah mobil besar berisi pasukan khusus dari kepolisian di luar gedung meledak oleh sebuah bom yang di lemparkan Balax. Suasana bertambah kacau ketika helikopter yang belum lama ikut dikerahkan kepolisian tiba-tiba oleng dan menabrak bagian gedung setelah sang pilot mendapat tembakan dari Balax. Tumbukan itu menimbulkan ledakan api yang cukup besar. Bersamaan dengan itu Rocal dan yang lainnya telah berhasil berada di mobil.

      Mobil itu segera meluncur menembus kepungan polisi yang tak berhenti memberondong mereka dengan tembakan. Tak lama kemudian terdengar sebuah ledakan yang lebih besar dari gedung itu. Sebelum mereka keluar gedung, Bitz memang memasang sebuah bom di dalamnya. Asap hitam kini mengepul menjadikan kota begitu terguncang. Tak terhitung jumlah polisi dan korban lainnya yang tewas. Kejadian itu segera menjadi sorotan semua media baik dalam maupun luar negeri.

    Di tengah perjalanan tiba-tiba tubuh Balax ambruk. Ternyata lengan kirinya terkena beberapa tembakan. Mungkin ketika mereka menembus  barisan polisi. Meski Balax tampak tak merasakan sakit yang berarti tapi darah terus mengalir membuat semua rekannya sedikit khawatir karena kejadian seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya.

       Delta berusaha mengikat lengan Balax agar darah tak terus mengalir. Mobil yang di kendarai oleh Rocal itu  tiba-tiba berhenti. Perhatian Rocal tertuju pada tubuh seorang perempuan yang terbaring di atas jalan di depan mobil mereka. Rocal turun dari mobil untuk memeriksa perempuan itu. Tetapi ketika tangannya membalikan tubuh wanita itu, sebuah pistol sudah menempel di kepalanya. Ketika ia menoleh ke arah mobil pun secepat itu keempat kawannya sudah berada di luar mobil dengan tangan terangkat ke atas karena juga dalam todongan senjata api.

    Seorang lelaki tertawa dari atas bangunan yang terletak di pinggir jalan itu. Diikuti orang-orangnya yang bermunculan dari segala sisi dengan senjata lengkap dan jumlah sangat banyak. Rocal dan yang lainnya segera memahami keadaan, mereka telah dijebak Radex, musuh lama mereka. Semua senjata yang tidak dalam keadaan full peluru membuat mereka tak memiliki kesempatan untuk melakukan perlawannan.

cerpen-imajinasi

       Tubuh Balax terjatuh setelah sebuah pukulan gagang senjata api laras panjang menghantam tubuhnya. Darah dari lengan kirinya kembali mengalir. Rocal tak terima melihatnya. Ia menarik tubuh perempuan di depannya dan merampas pistol di tanganny yang kemudian di arahkan kepada orang bersenjata di atas gedung.

       Vix pun menarik pistolnya dan menembak ke arah orang-orang yang mengepung mereka. Delta menarik tubuh Balax dan berlindung dekat mobil. Bitz yang berusaha melindungi Deltta terkena tembakan pada punggungnya.Vix berlindung di balik tembok menahan amarahnya. Pertempuran tak dapat dihindarkan. Pertempuran saat ini tak seimbang. Selain jumlah dan cara licik yang digunakan, Rocal dan yang lainnya benar-benar dalam keadaan yang tak siap.

         Vix berguling ke arah Bitz yang terjatuh dan melemparkan pisau-pisau ke arah para penembak. Belum sempat Vix mengarahkan pistolnya pada Radex, sebuah bom kecil dilemparkan orang-orang Radex ke bawah. Vix berhasil membawa Bitz berlindung di balik tumpukan ban. Tapi Vix tak bisa menghindari peluru yang dengan sangat cepat menembus lengannya.

        Delta memegang erat-erat pistol di tangannya. Beberapa bulir air matanya menetes menyaksikan Balax menghembuskan nafas terakhirnya kerena terlalu banyak mengeluarkan darah. Sementara Rocal melawan orang-orang Radex tanpa senjata. Beberapa kali ia terjatuh karena hantaman gagang senjata laras panjang. Delta menghambur ke tengah jalan dengan dua pistol di kedua tangannya.

“Matilah kalian para pengecut…aaaaaa!!!!” Ia berteriak dan menembak membabi buta. Beberapa orang-orang Radex yang terkena tembakan terjatuh. Tapi tak lama tubuh Delta pun harus menerima rentetan peluru balasan dari semua orang-orang Radex. Delta terus menembak, ia tak menghiraukan peluru-peluru yang menembus tubuhnya sampai tubuhnya benar-benar terjatuh.

      Vix memejamkan matanya, Bitz yang terbaring di sampingnya pun sudah tak bernyawa.Ia merangkak ke arah mobil, dan mengambil tas kotak biolanya yang tertinggal di sana. Ia mengeluarkan senjatanya dan sebuah sapu tangan ungu untuk mengikat lengannya yang terluka.

        Sebuah mobil box besar datang membawa bala bantuan bagi Radex. Orang-orang itu berloncatan dan membombardir semua sudut-sudut persembunyian tempat itu. Rocal tampak sudah tak berdaya. Darah memenuhi wajahnya. Radex seperti sengaja menyiksanya dengan tak menembak mati Rocal, tapi membiarkannya menahan sakit dari luka pukulan dan hantaman orang-orangnya yang semakin banyak menghajar Rocal.

        Vix mengisi full senjatanya dengan peluru. Ia menatap satu-satu ketiga tubuh sahabatnya yang telah tak bernyawa dari kejauhan. Lalu ia pun melihat orang-orang Radex mengambil semua tas berisi uang di mobil mereka. Benarkah ini sebuah akhir dari cerita sekelompok pengacau yang paling di cari pemerintah?

      Permusuhan dengan Radex bermula ketika Ragion dan yang lainnya menggagalkan sebuah rencana besar kedua mafia narkoba yaitu mafia kelompok Radex dan kelompok rekan bisnisnya. Keenamnya lalu menjadi sesuatu yang diperebutkan oleh kedua mafia itu untuk menjadi bagian dari mereka. Tapi dengan lantang Ragion dan yang lain menolak tawaran itu karena meskipun mereka perampok tapi yang mereka cari bukanlah uang. Sejak saat itu Radex selalu berusaha menjebak Ragion dan yang lainnya tapi selalu tak berhasil.

        Vix bangkit dan bersiap membombardir orang-orang Radex. Ia melemparkan beberapa bom ke arah mobil bala bantuan Radex. Diantara asap yang mengepul itu Vix berlari dan membombardir orang-orang Radex. Mereka yang terkena tembakan terjungkal. Vix semakin beringas, ia tak berhenti menembak. Ia tak mempedulikan rentetan peluru balasan yang di arahkan ke tubuhnya. Beberapa peluru itu berhasil menembus tubuh Vix.

      Darah segar meleleh dari balik jas hitamnya, tapi Vix tak menghiraukannya. Ia masih menembak dan puluhan orang Radex terjungkal karena tembakan-tembakannya. Peluru dalam senjata di tangan Vix kini tak bersisa lagi. Kesempatan itu tak di sia-siakan oleh anak buah Radex. Mereka memberondong tubuh Vix yang telah panuh dengan lubang peluru. Sementara tubuh Rocal yang sudah tak berdaya lagi di lemparkan ke arah Radex.

 “Ayo berlutut keparat..!!!” Seorang anak buah Radex menendang tubuh Rocal. Radex tertawa terbahak-bahak melihat tontonan itu. Sementara tubuh Vix yang telah hancur kini di ikat di sebuah tiang dan tak berhenti di tembak. Rocal mengepalkan tangan meskipun tubuhnya sendiri sudah tak berdaya.

        Radex berjalan ke arah Rocal dan berbisik di telinganya “ Selamat tinggal kawan…” Sebuah pedang dari balik jasnya menembus perut Rocal bersamaan dengan itu sekelompok burung yang hinggap di sebuah pohon terbang dengan tiba-tiba. Lalu Radex berjalan dengan pedang terhunus penuh darah kemenangan diikuti orang-orangnya meninggalkan dua tubuh yang sama-sama sekarat itu.

        Sebuah angin berhembus memasuki kamar Ragion dan menabrak fotonya dengan kelima rekannya hingga terjatuh. Ia yang sudah dalam keadaan tenang bergegas meraih jaketnya. Dengan sebuah mobil merah ia meluncur di jalan berpasir menuju tempat perjanjian dengan lima rekannya yang lain.

cerpen-action

    Sesampainya di sana ia hanya terpekur melihat sekeliling tempat itu yang sunyi. Hanya ada angin yang menerbangkan daunan kering. Ada satu motor yang tersisa. Ragion tak buang waktu lagi, ia mengendarai motornya menuju markas. Hal yang sama harus ia dapati di sana. Ia melihat sebuah denah gedung bank yang menjadi target mereka dalam pembicaraan operasi terakhir mereka.

     Ia menyalakan televisi dan menyaksikan gedung target mereka telah menjadi puing-puing sisa ledakan. Ia merasa lega ketika pembawa berita mengatakan polisi tak berhasil menangkap komplotan perampok itu. Kemudian ia berusaha menghubungi kelima kawannya itu tapi tak ada jawaban.

     Ragion memutuskan melacak keberadaan mereka dari alat pemancar yang ada di mobil mereka. Setelah mendapatkan posisi mereka, Ragion bergegas kembali mengemudikan motornya menuju tempat itu. Motor merah itu meluncur melawan angin yang berhembus kencang dan sesekali menciptakan pusaran kecil dengan badai pasir. Tiba-tiba motor Ragion berhenti di sebuah jalan dengan bangunan bekas di sepanjangnya tepiannya. Ragion melihat mobil mereka tapi ia pun menyadari bahwa di tempat itu telah terjadi pertempuran. Mayat-mayat masih bergeletakan di sekitar tempat itu.

      Ragion berjalan pelan menghampiri mobil mereka dan alangkah terkejutnya ketika ia menemukan tubuh Bitz di sana tak bernyawa. Ia berusaha tetap tenang dan berjalan sampai akhirnya kembali menemukan mayat Balax dan Delta. Kini tubuhnya mulai lemah. Ia pun menemukan sebuah tubuh yang terikat di sebuah tiang. Ada sapu tangan ungu di lengannya dan tubuhnya mengepulkan asap dari peluru-peluru yang bersaranng di tubuhnya.

     Ragion panik. Ia berlari ke sana-kemari tak mampu mengendalikan diri. Ia mencabut pistol dari balik jaketnya dan berusaha mencari pembunuh semua sahabatnya itu. Tapi semua itu sia-sia, Radex telah pergi membawa kemenangan itu ke markas mereka. Ragion tertunduk lemah. Ia membopong satu persatu tubuh kelima sahabatnya itu dan meletakannya dalam satu baris. Dendam di dadanya berkecamuk. Ia berjanji takan ada tempat di bumi ini untuk pembunuh sahabatnya itu bersembunyi darinya. Bersembunyi dari maut.

 :

 Tangerang 23 Agustus 2009

Riyan Putra

artikel-berkualitas

Banyak orang membutukan informasi ini. Bagikan artikel GRATIS ini sekarang juga. . .

Related Post


Cerpen – Ketika Langit Hitam Sempurna
Cerpen – Ketika Langit Hitam Sempurna

  Hari hampir tengah malam, tapi Jakarta memang tak pernah…

Tips Mudah Menulis Cerpen
Tips Mudah Menulis Cerpen

Banyak yang mengatakan menulis cerpen itu sulit. Mudah atau sulit tentu…

Cerpen – Kristal Hujan
Cerpen – Kristal Hujan

        Igo, seorang lelaki muda berkemeja abu-abu…

Cerpen – Cinta Terhalang Senja
Cerpen – Cinta Terhalang Senja

Seperti angin memuja langit Seperti pasir mengagum laut Raisya nafira…