Home  /  Seni  / Cerpen – Para Pengejar Bayang-bayang

Cerpen – Para Pengejar Bayang-bayang


Cerpen – Para Pengejar Bayang-bayang

        Senja menimpa kota. Seminggu sudah matahari sembunyi. Tak juga ia berani bertatap dengan kodrat atau peristiwa-peristiwa sunyi yang tak bisa di nalar oleh nalar biasa. Peristiwa-peristiwa bisu tanpa nama, yang terjadi di bawah garis-garis gerimis tak berhenti.

      Merku berjalan pelan menembus remang kabut. Ia menyusuri jalanan kota pagi yang sunyi itu dan melihat semuanya. Darah, senyum beku, tubuh-tubuh tersandar tanpa nyawa, keheningan, ketidakmengertian. Mereka tergeletak di sepanjang jalan, di dalam mobil, di taman, di ruang telepon umum dan hampir semua tempat kota itu.

       Merku melihat seorang anak kecil yang memegang bunga, tampak sedang tertawa riang mengejar seekor anjing kecilnya. Tapi itu mungkin beberapa menit atau saat yang lalu. Meskipun dengan posisi masih memegang bunga, dan tampak tertawa, tapi anak kecil itu kini tak lagi bernyawa. Ia terbaring di sebuah halaman rumah yang kebetulan dilewati Merku. Begitupun dengan anjing kecilnya, darah memenuhi seluruh bulu putihnya yang halus. Apa yang telah terjadi di kota yang sunyi itu? Apakah telah ada konflik atau pertempuran? Siapa yang bertanggung jawab atas semuanya?

*

         Merku duduk di kursinya, kepalanya menunduk. Ia tak mengerti dengan semua peristiwa-peristiwa itu. Ranus menatap layar televisi yang berisi berita-berita tentang pembantaian misterius yang terjadi beberapa hari terakhir ini. Dahinya berkerut, tangannya kaku memegang remote televisi. Setiap malam polisi berjaga di seluruh pelosok kota. Sirine-sirine meraung sepajang malam dan kabarnya Presiden juga menugaskan militer utama untuk menangani kasus ini. Tapi misteri belum juga terjawab.

         Setiap malam yang bergulir seolah tak terjadi apa-apa, tapi berbeda ketika setiap pagi selalu ditemukan polisi-polisi dan orang-orang yang tergeletak dengan luka dan lubang-lubang peluru yang teramat rapi yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu yang terlatih atau penjahat dan para mafia profesional.

       Siapa yang mampu menghadapi kesiagaan polisi yang jumlahnya juga tentu sangat banyak. Seakan mustahil. Ditambah Presiden telah memerintahkan memasang kamera di setiap objek penjagaan. Tapi ketika rekaman kamera itu di putar, selalu terjadi kerusakan gambar saat pembantaian terjadi yang kemudian kembali seperti semula setelah pembantaian itu selesai. Tentu orang itu telah mempersiapkan segala sesuatunya sampai sedetil-detilnya. Tiba-tiba Ranus melempar remote televisi di tangannya.

      “Ah..siapa dia sesungguhnya, makhluk macam apa yang bisa melakukan itu semua?” Ranus memutar-mutar sebuah sepidol di tangannya. Mars hanya mengerutkan alis dan merubah posisi berdirinya tanpa menanggapi Ranus. Karena mereka semua sesungguhnya dibebani oleh pertanyaaan yang sama. Sementara Pluto masih sibuk mengelap senapan canggihnya. “Siapa dan apa tidak penting, yang jelas ini harus segera dihentikan.”  Tiba-tiba Satur menyela dan berdiri dari tempat duduknya semula. Ia berjalan seperti tengah memikirkan strategi. Berbeda dengan Neptu yang hanya membolak-balik majalah dan sesekali tangannya meraih cangkir kopinya.

       Merku masih membeku. Ruangan itu kembali hening. Ruangan yang biasa mereka gunakan untuk membahas semua persiapan sebelum menjalankan  setiap misi mereka. Dan pembunuhan misterius itu seperti sengaja ditunjukan pada mereka untuk menantang kemampuan mereka yag selama ini mampu menyelesaikan kasus apa pun. Tapi siapa orang yang mampu membunuh ratusan orang hanya dalam satu malam saja? Dan mengelabuhi para anggota militer utama yang bersenjata dan berkemampuan penjagaan di atas rata-rata. Bahkan hanya untuk mengetehui ciri-ciri pelakunya saja pemerintah dibuat putus asa.

   “Tadi pagi Komandan CENTRA menemuiku.” Tiba-tiba suara Merku memecah keheningan. Ia berbicara tanpa mengangkat wajahnya. Kelima orang yang berada di ruangan itu pun menatapnya. Mereka semua tampak menunggu penjelasan Merku. Tapi yang ditatap hanya menarik nafas panjang dan memutar-mutar pisau lipat di tangannya.

    “Dia meminta kita menangani kasus ini.” Merku berkata datar. Presiden tidak puas dengan kerja militer utama yang sampai saat ini tidak mampu menyelesaikan apapun. “Tanpa diminta pun aku akan membunuh pembantai itu. Karena aku dari awal tahu militer utama tidak akan mampu menangani kasus ini.” Ranus berapi-api meskipun di hatinya sendiri pun ada sedikit keraguan, apakah mereka juga akan mampu mengungkap misteri di balik kasus itu. Karena sampai saat ini, mereka pun masih dibuat kagum oleh pembunuh misterius itu.

“Jadi kapan kita beraksi?” Pluto menatap Merku dan meminta kepastian dari pemimpin mereka itu. “Malam ini saja.” Ranus menyela. “Tidak, Besok pagi kita bergerak, siapkan saja semuanya!” Merku melemparkan pisau lipatnya dan menancap tepat di depan seekor cicak yang tampak mengejar kupu-kupu kecil. Merku beranjak dari tempat duduknya dan  keluar lalu menghilang di balik pintu.

         Kelima teman Merku itu hanya saling pandang. Sebanarnya dari awal mereka merasa sedikit heran dengan prilaku Merku yang sedikit berbeda dari biasanya. Merku seperti memilki beben tertentu dalam kasus ini. Tapi mereka hanya menyimpan keheranan mereka itu di benak masing-masing.

        Sementara Merku di luar sana termenung, tatapannya jauh melewati hamparan air sungai yang terbentang lebar di hadapannya. Pikirannya melayang pada masa lalu. Mungkinkah Aurel pelakunya? Aurel adalah gadis yang sangat ia cintai dan juga sangat mencintainya. Tapi kenyataan kemudian memutuskan lain untuk keduanya. Aurel adalah adik kandungnya yang terpisah sejak kecil dalam tragedi beberapa puluh tahun silam. Kenyataan itu membuat Merku hancur. Tapi Aurel lebih tak mampu lagi menghadapi semua itu. Beberapa kali ia mencoba mengakhiri hidupnya tapi Merku selalu berhasil menyelamatkannya. Lalu suatu waktu Aurel benar-benar menghilang dan lenyap di hari-hari Merku.

         Dan di hari subuh kemarin, Merku melihat tubuh yang bertahun-tahun hilang dari hidupnya itu. Tubuh yang teramat ia kenal. Aurel yang berjalan di balik kegelapan kabut. Kedua tangannya menggenggam senjata api. Peluru-peluru itu keluar tanpa suara menembus tubuh-tubuh yang menyergapnya. Tapi benarkah itu Aurel? Merku benar-benar berharap itu bukanlah Aurel yang ia cintai.

*

       Sebuah mobil khusus kesatuan CENTRA berhenti di jalan kota yang sepi. Gerimis tipis menyertai Ranus dan yang lainnya keluar dari mobil tersebut. Mereka menyebar pandangan ke sekitar tempat itu. Merku masih di dalam mobil. Ia masih duduk di belakang kemudi. Ia agak terkejut ketika Satur tiba-tiba bertanya apa yang harus mereka lakukan.

       Merku segera ke luar dan memberi perintah pada semuanya untuk menyiapkan senjata. Di tempat itu tampak beberapa mayat tergeletak di atas trotoar. Merku mendekatinya, mayat itu ternyata seorang polisi. Tampak pula mayat seorang laki-laki tua yang tergeletak di dekat halte. Ia seorang pemabuk mungkin karena tangannya tampak masih memegang sebotol whisky.

     “Ayo jalan.” Merku memberi perintah. Ia menarik dua buah pistol dari tempatnya dan berjalan paling depan kemudian diikuti kelima rekannya. “Semua siaga, jangan ada yang lengah. Amati semua tempat ini.” Mereka semua menyebar. Merku menarik nafas panjang, jika yang akan ia hadapi adalah Aurel, apa yang akan ia lakukan?

para-pengejar-bayang-bayang

       Merku menatap kosong gedung-gedung kota yang sepi. Apakah benar-benar Aurel pembunuh misterius itu? Tapi apa yang membuat Aurel melakukannya? “Semua tempat sudah kami periksa, hasilnya nihil Mer.” Ranus membuyarkan lamunan Merku. “Baik, kita jalan lagi.” Keenamnya berjalan penuh kesiagaan. Mayat-mayat semakin banyak ditemukan. Pikiran Merku berkecamuk. Kenapa Aurel harus datang dengan cara seperti ini? Untuk apa Aurel melakukan semua ini?

        Dan subuh kemarin benar-benar membuat Merku gemetar. Detak jantungnya berpacu tak menentu. Ia benar-benar melihat Aurel melangkah di antara kabut dan mayat yang tergeletak. Dan Merku hanya membisu. Ia ingin memanggil Aurel, tapi suaranya hanya tertahan dan berhenti di tenggorokan. Ia hanya mampu menatap tubuh gadis itu berjalan semakin menjauhinya sampai benar-benar menghilang di telan kabut.

        Kini keenamnya sampai di atap gedung. Mereka semua menatap ke salah satu tepi tempat itu. Disana tampak seorang gadis dengan balutan kaos serta syal dan memakai rok panjang yang bergelombang membelakangi mereka. Rambutnya terurai dan bergejolak di hempas angin pagi. Sebuah tas berisi sebuah boneka yang berukuran sedikit lebih besar dari tas itu. Sehingga mereka bisa meihat kepala dan tangan boneka itu menyembul keluar tas yang di selempangnya itu.

       Merku berjalan beberapa langkah mendekati gadis itu. Kelima rekannya yang masih diam berdiri hanya saling pandang dan tak memahami apapun. Mereka hanya menerka-nerka, bahwa gadis itu salah satu keluarga dari yang mati dan berniat mengahiri hidupnya. Alangkah terkejutnya Ranus ketika matanya menatap sebuah senjata api di genggaman gadis yang masih berdiri membelakangi mereka. Ia memerintahkan rekan-rekannya yang lain untuk menyiapkan senjata dan membidik ke arah gadis itu.

cerpen-sedih

      Tapi kelimanya heran dengan Merku yang masih berjalan seolah tanpa kesiagaan mendekati gadis itu. Mustahil jika Merku tak menyadari ada sebuah pistol di tangan gadis itu. Kelimanya bertambah heran ketika mendapat isyarat dari Merku yang memerintahkan kelima temannya itu untuk menurunkan senjata.

      Langkah Merku terhenti. Matanya tertuju pada boneka di tas gadis itu. Itu adalah boneka pemberiannya. Ternyata Aurel masih menyimpannya. “Kak Merku, untuk apa kakak datang?” Aurel berkata tanpa membalikan tubuhnya. Ia biarkan syal di lehernya berkelebatan bersama rambutnya oleh angin yang cukup kencang menerpa keduanya.

        Merku merasa dadanya sesak, Aurel memanggilnya Kakak. Apakah Aurel sudah bisa menerima kenyataan? “Rel, kenapa kamu lakukan ini semua?” Angin pagi benar-benar terasa dingin menembus pori-pori kulit Merku meskipun ia memakai jas tebal. Terdengar sebuah tawa getir dari mulut gadis itu. “Untuk keadilan Kak.”  “Keadilan apa? Untuk orang tua, sahabat, dan semua yang mati pada waktu itu? Tapi kau harus ingat Rel, mereka semua mati dalam sebuah pertempuran dan konflik yang hanya terjadi waktu itu.”

          Konflik itu terjadi belasan tahun silam yang merampas orang tua mereka, konflik antara dua kelompok itu memakan banyak korban. Bahkan anak-anak seusia mereka pun dibantai, tapi beruntung Merku dan Aurel bisa meloloskan diri meskipun keduanya kemudian terpisah. Saat itu pemerintah mengambil tindakan untuk menumpas habis kedua kelompok itu. Apakah kini Aurel ingin membalas dendam pada pemerintah?

“Keadilan untuk diri sendiri.” Kemudian Aurel melanjutkan “Aku ingin membebaskan diriku dari dendam ini. Aku hanya ingin membunuh, seperti mereka juga yang begitu mudah membunuh orang tua kita. Apa itu salah?”

   “Aurel, dengarkan aku, orang-orang yang kau bunuh adalah orang-orang tak berdosa. Tak ada hubungannya dengan konflik masa itu. Dan sekarang kau dicari seluruh kepolisian negeri ini Rel!!” Merku setengah berteriak.

Dooor.. Dengn cepat Aurel membalikan tubuhnya dan menembakan pistolnya pada Merku. “Kau tidak akan mengerti Merku! Jika tidak ada konflik itu kita tidak akan terpisah. Kita akan hidup bahagia bersama ayah dan Ibu. Aku takan mencintaimu sebagai kekasih. Dan apakah kau lupa, kau sendiri yang mengatakan waktu itu bahwa pemerintahlah yang sesungguhnya sengaja menciptakan konflik itu. Apakah karena kini kau bekerja pada pemerintah, lalu kau lupa kata-katamu waktu itu!!” Aurel berteriak di hadapan Merku yang masih berdiri menahan perih dari peluru yang bersarang di dadanya.

         Doooor.. Sekali lagi pistol Aurel menembak tubuh Merku yang seperti iklas menerimanya. Ranus dan yang lainnya tanpa komando membidikan senapan mereka ke arah Aurel tapi Merku dengan cepat mengangkat tangannya, memberi perintah tidak ada yang boleh menembak.

“Rel, larilah sejauh kau mampu. Aku mohon.” Merku tersenyum, tubuhnya rubuh. Darahnya mengalir. Aurel menurunkan tangannya yang dari tadi lurus menggenggam pistol ke arah Merku. Air matanya jatuh. Menitik tepat di pipi Merku. Pistol di tangannya pun terjatuh. Aurel menangis, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Merku yang melihat ke arah teman-temannya, kembali berdiri dengan sisa kekuatanya ketika Ranus dan yang lainnya tetap melepaskan tembakan ke arah Aurel. Tubuh Merku telah lebih dahulu memeluk Aurel dan menyambut peluru-peluru itu dengan punggungnya.

          Sekali lagi Merku tersenyum dan tubuhnya terjatuh bersama nafasnya yang terakhir. Kini Ranus dan yang lainnya membeku. Seperti mimpi bagi mereka menghadapi kenyataan di hadapan mereka itu. Satu-satu dari mereka menjatuhkan senjata mereka dan menyesali segalanya.

       Aurel berlutut, air matanya kembali jatuh. Orang yang sangat ia cintai kini benar-benar telah pergi. Tangannya meraih pistolnya yang semula terjatuh, kemudian ia berdiri merentangkan kedua tangannya. Lalu mengarahkan pistolnya ke arah kepalanya. Dooor..Door…Door..!! Darah segar dengan cepat mengucur dari kepalanya. Pistolnya pun terjatuh ketika peluru di dalamnya benar-benar habis terbuang ke kepalanya. Kemudian diikuti tubuhnya sendiri yang terjatuh.

:

Tangerang 15 Maret 2009

Riyan Putra

artikel-berkualitas

Banyak orang membutukan informasi ini. Bagikan artikel GRATIS ini sekarang juga. . .

Related Post


Cerpen – Kristal Hujan
Cerpen – Kristal Hujan

        Igo, seorang lelaki muda berkemeja abu-abu…

Cerpen – Para Pembunuh dari Masa Lalu
Cerpen – Para Pembunuh dari Masa Lalu

         Ragion menutup telinganya. Ia terduduk di tempat tidur kamarnya.…

Cerpen – Bulan Sepotong Semangka
Cerpen – Bulan Sepotong Semangka

      Jam dinding menunjukan jam tiga pagi. Di ruangan…

Tips Mudah Menulis Cerpen
Tips Mudah Menulis Cerpen

Banyak yang mengatakan menulis cerpen itu sulit. Mudah atau sulit tentu…