Home  /  Seni  / Cerpen – Senandung Gerbong

Cerpen – Senandung Gerbong


Cerpen – Senandung Gerbong

          ♫♫  “Tangis yang beku mengalir lewat lagu

                    Duka senyumku menari dalam debu

                    Malam yang bisu aku menatapmu

                   Gelap selalu dimanakah aku”   ☼ 

        Arka menoleh ke kanan dan ke kiri mencari arah datangnya suara yang menyanyikan lagu tersebut. Ia sudah tak asing lagi dengan suara itu. Bahkan telinganya sudah amat terbiasa mendengarnya. Suara bocah pengamen yang selalu menyanyikan lagu yang sama, lagu yang di yakini Arka di ciptakan oleh bocah itu sendiri, karena memang ia tak pernah mendengarnya di tempat manapun selain di kereta itu.

      Terkadang pikirannya tergelitik juga untuk berfikir,apakah bocah itu benar-benar menyanyikan lagu itu setiap hari, lagu yang sama yang telah Arka dengar ratusan kali hanya dari mulut bocah itu. Lagu sederhana yang dinyanyikan apa adanya tapi begitu mengena dan menyayat hati Arka. Tapi apakah semua orang di kereta itu merasakan perasaaan yang ia rasakan? Entahlah.

        Setiap orang di kereta itu terlalu sibuk dan seolah tak ingin mendengar apa lagi menghayati setiap lagu yang dibawakan oleh para pengamen. Terlebih lagi pengamen bukan hanya bocah itu. Dari seorang tua yang memainkan biola, sekelompok pemuda dengan macam-macam alat musik modernnya, sampai anak kecil yang hanya menggunakan kecrekan sederhana dari tutup botol saja. Mereka berlalu lalang bergantian setiap menit di tambah peminta-minta dan pedagang asongan yang juga tak henti menambah hiruk-pikuknya gerbong kereta ekonomi itu.

       Mungkin hal itu yang membuat setiap penumpang enggan peduli. Tapi bagi Arka, bocah itu istimewa. Entah kenapa sejak pertama Arka naik kereta dan melihat bocah itu, ia sudah tertarik dengan bocah lelaki yang selalu berdiri di pintu kereta dengan gitar kecilnya itu. Dan Arka adalah satu dari beberapa orang yang selalu menyelipkan uang di plastik bungkus permen yang sudah lusuh dan selalu disodorkan bocah itu setelah bernyanyi.

        Belum habis lamunan Arka, seorang anak kecil berjalan pelan di antara sesaknya penumpang yang berdiri. Ia menyanyikan lagu dengan gitar kecilnya. Bocah itu telah membuyarkan lamunan Arka.

    ♫♪♪   “Aku berlari di hujan matahari

              Mengejar mimpiku dalam dingin sunyi

              Kadang kujatuh dan aku menangis

             Inikah hidup hidupku yang pedih”

        Suara bocah itu bergema melawan bising roda kereta dan rel yang berdesing nyaring serta suara-suara lantang pedagang. Ribuan perasaan menyerang Arka. Ia masih menatap bocah itu yang tampak membuang pandangannya ke luar sana. Ada kerinduan di mata bocah itu. Ada perjuangan sekaligus kepasrahan. Ada bara dan kesendirian. Tak disadari Arka, beberapa bulir air matanya terjatuh. Dengan cepat ia menghapusnya. Bocah itu berdiri di pintu kereta menatap jauh ke luar tak berbatas. Ia menyanyikan bagian reff dari lagu itu berulang-ulang.

    ♫♪♪   “Kubernyanyi untuk menyambung nadi

              Kucoba hadapi kerasnya hidup ini

              Meski kuletih kuharus berlari

             Melawan mimpi kusendiri”

        Lagu itu bergema. Suara bocah itu begitu jelas terdengar oleh Arka dan menyayat hatinya. Arka terkejut ketika tangan bocah itu tiba-tiba sudah ada di hadapannya dan mengeluarkan sebuah kantong plastik permen lusuh yang kosong. Hanya beberapa keping uang recehan ada di sana. Dengan buru-buru Arka mengambil beberapa lembar uang ribuan dari sakunya dan memasukannya ke dalam kantong plastik itu.

*

         Arka melangkahkan kakinya keluar dari gerbong kereta . Ia berjalan di antara hilir mudik orang-orang di stasiun itu. Seperti biasa langit telah senja ketika ia menginjakan kaki di stasiun untuk pulang. Ia bekerja di sebuah perusahaan penerbitan. Tapi tak jarang ia harus pulang malam ketika ia harus bekerja lembur di kantornya.

         Langkahnya terhenti, matanya tertuju pada seorang bocah laki-laki kecil si pengamen yang berjalan bersama seorang lelaki bertubuh tinggi besar. Tanpa disadarinya Arka berjalan mengikuti mereka yang terus berjalan ke arah pojok stasiun tempat penyimpanan balok-balok kayu dan gerbong bekas. Dari balik tiang beton besar Arka mencoba menebak isi percakapan mereka. Entah kenapa ia merasa begitu penasaran untuk mengetahuinya.

         Lelaki bertubuh tinggi besar itu tampak membentak dan meraih kerah baju bocah itu, sebuah pukulan pun tak lama mendarat di tubuh bocah itu. Beberapa orang yang juga pengamen dan gelandangan yang tidur dan hidup di gerbong-gerbong bekas dan ruang-ruang bawah tumpukan balok yang tampak terganggu dengan keributan itu, saling melongokan kepala. Jumlah mereka cukup banyak. Bukan hanya laki-laki bahkan wanita-wanita tua dan anak-anak kecil pun ada. Tapi sesuatu yang aneh bagi Arka, orang-orang itu tampak tak peduli, bahkan mereka yang semula tertidur dan terbangun itu, kembali melanjutkan tidur.

        “Astaga, beginikah kehidupan jalanan?” Arka bergumam dalam hati.

      Bocah itu tersungkur. Sebuah kaleng yang ia ambil dari tas selempangnya pun terlempar. Beberapa keping uang logam pun berhamburan karena sebuah tendangan lelaki itu mendarat di kaleng kecil itu. Arka tak bisa menahan diri lagi. Ia meletakan tas besarnya dan berjalan ke arah bocah itu. Tanpa diduga Lelaki bertubuh tinggi besar yang dapat dipastikan ia adalah preman stasiun itu pergi meninggalkan mereka setelah mengambil beberapa lembar uang ribuan yang ternyata ikut terlempar dari kaleng kecil tadi.

     “Kamu gak apa-apa?” Arka memapah tubuh bocah itu.

     “Gak apa-apa Bang, makasih.” Bocah itu tampak memegang dagunya yang sedikit berdarah. Arka bergegas mengambil tas besarnya dan kembali menghampiri bocah itu.

 “Siapa nama kamu?”

 “Rala.” Bocah itu menjawab singkat. Arka tersenyum. “Nama kamu unik.”

Tapi bocah itu tak menghiraukan Arka. Ia masih saja meringis menahan sakit.

  “O ya, tadi yang mukulin kamu siapa?”

  “Bang Danang, dia udah lama nyari saya. Saya emang gak pernah nyetor ke dia.”

   “Nyetor apaan?” Arka pura-pura tidak mengerti.

   “Ya nyetor hasil ngamen. Di sini semua pengamen nyetor ke dia.”

         Tiba-tiba Arka merasa iba. Dadanya sesak, hatinya menjerit. Betapa berat beban yang ditanggung Rala. Sendiri melawan ibu kota, tanpa kehangatan orang tua, tetap lantang mempertanyakan hidup, memperjuangkan nasib. Anak sekecil itu? Arka menarik nafas panjang. Ia berusaha keras mengendalikan perasaannya.

    “Kamu udah makan?”

Rala menggeleng dan berusaha memperbaiki senar gitar kecilnya yang sempat terputus ketika terjatuh tadi. “Ya sudah ayo kita makan.” Arka melanjutkan. Tapi Rala kembali menggeleng. “Kenapa?” Arka menatap Rala. Tapi lagi-lagi pertanyaan Arka yang ini pun di jawab bocah itu dengan gelengan kepala dan Rala masih sibuk memperbaiki gitarnya. “Ya sudah, ini ada uang buat kamu beli makan ya..” Rala menatap ke arah Arka yang mengeluarkan uang sepuluh ribuan. Rala tampak berfikir, lalu tak lama ia tampak mengeluakan sebuah lap dari dalam tasnya. Tanpa buang waktu, ia pun mengelap sepatu Arka.

      Bukan main terkejutnya Arka. “E ..e ee kenapa kamu ngelap sepatu saya?” Bocah itu tetap saja mengelap sepatu Arka yang tidak kotor itu. “Saya tidak terbiasa menerima sesuatu tanpa berbuat apa-apa Bang.” Arka seperti tak percaya dengan apa yang ia dengar. Rala, bocah sekecil itu, hidup liar di jalanan, kapan dan dari mana ia mengetahui ajaran seperti itu? Bukankah kebanyakan oang-orang jalanan justru terkadang merampas, menjambret hanya untuk sekedar makan?

     “Saya memang terbiasa makan dari belas kasihan orang, tapi saya ngamen Bang. Saya mencoba menebus uang-uang itu dengan sesuatu yang saya punya. Dengan lagu dan doa.” Arka terperangah. Hatinya semakin menjerit. Pikiranya kembali terngiang pada lagu yang selalu dinyanyikan bocah itu. Lagu yang benar-benar menggambarkan hidup bocah itu. “Sudah..sudah, ini uangnya. Sepatu saya sudah bersih toh? Makasih ya. Beli makan sana!” Bocah itu masih saja menggeleng. Arka mencoba menebak gelengan bocah itu. “Gak ada kembaliannya.” Rala berkata datar dengan polosnya. Arka tersenyum getir mendengarnya. “Gak perlu di balikin kembaliannya.”

“Saya di sini biasa makan tiga ribu doang kok Bang.” Tanpa menunggu jawaban Arka, bocah itu berlari ke sebuah warung nasi. Arka hanya menggelengkan kepala. Makan tiga ribu pasti hanya dengan nasi dan sayur seadanya. Lagi pula Arka tahu, sebenarnya dari tadi Rala memang menahan lapar. Tak lama ketika Arka hendak melangkahkan kakinya untuk pulang, bocah itu memanggilnya.

 “Bang tunggu!!” Bocah itu tampak berlari ke arahnya. Ia memegang sebungkus nasi, nasi yang mungkin paling murah karena hanya berisi nasi dan sayur yang sama sekali tak karuan rasanya. Ia mengulurkan tiga lembar uang kertas ke hadapan Arka. Selembar uang lima ribuan, dua lembar uang seribuan. Air mata Arka menetes membanjiri pipinya melihat dengan lahapnya Rala makan nasi murahan itu.

       Langit telah remang-remang. Suara adzan sayup-sayup terdengar menggema seluruh pelosok stasiun. Arka mengeluarkan sebotol air kemasan dari tasnya dan meletakannya di hadapan Rala. Rala mengangguk mengucapkan terima kasih. Kemudian Arka berlalu dengan dada sesak.

:

Tangerang, 28 Mei 2009    

Riyan Putra

artikel-berkualitas

Banyak orang membutukan informasi ini. Bagikan artikel GRATIS ini sekarang juga. . .

Related Post


Cerpen – Bulan Sepotong Semangka
Cerpen – Bulan Sepotong Semangka

      Jam dinding menunjukan jam tiga pagi. Di ruangan…

Cerpen – Anahisa
Cerpen – Anahisa

       Langit begitu bersih, putih dan sebenter lagi…

5 Proses Berkarya Seni Lukis
5 Proses Berkarya Seni Lukis

Anda tentunya sudah tahu bahwa karya seni rupa dua dimensi memiliki…

Cerpen – Di Bawah Hujan Senja
Cerpen – Di Bawah Hujan Senja

          Hujan lebat mengguyur kota sore…