Home  /  Lingkungan  / Kerusakan Lingkungan di Danau Toba Salah Siapa?

Kerusakan Lingkungan di Danau Toba Salah Siapa?


Kerusakan Lingkungan di Danau Toba Salah Siapa?

Keindahan alam Danau Toba dan Pulau Samosir yang terkenal seantero Indonesia bahkan luar negeri tentunya perlu dirawat dan dilestarikan. Aktivitas manusia yang melakukan pencemaran baik melalui sampah atau polusi seperti halnya di tempat wisata lain, diakui memang sulit untuk dihentikan terutama karena perkembangan teknologi seringkali bertolak belakang dengan cara perawatan lingkungan.

Sebagai contoh, efek dari moderenisasi dalam hal pangan atau makanan, saat ini banyak perusahaan memproduksi makanan instan yang kemasannya lebih sering menjadi sampah yang tidak bisa dicerna oleh alam. Selain itu banyak berdirinya pabrik juga memberikan andil kerusakan lingkungan melalui limbah. Lalu kendaraan bermotor juga memberikan dampak penurunan kualitas udara melalui polusi udara.

Air Danau Toba yang pada zaman dahulu digunakan untuk keperluan sehari-hari masyarakat sekitar saat ini tidak lagi jernih dan bersih tapi justru dipenuhi sampah dan kotoran. Ini tentu pemandangan yang sangat memprihatinkan. Jika keadaan ini terus dibiarkan dan tidak mendapatkan perhatian serius maka bisa dibayangkan beberapa tahun ke depan, keindahan danau toba hanya tinggal cerita.

Setiap orang harus memiliki kesadaran tinggi bahwa alam yang indah merupakan anugerah dan titipan yang harus dijaga agar lestari hingga generasi anak cucu. Alam yang indah bisa hilang dan berganti dengan kerusakan jika semua pihak beramai-ramai mencemarinya. Pihak pemerintah selaku pihak yang memiliki kekuatan selayaknya juga serius dalam menyikapi kerusakan lingkungan. Diperlukan penanganan dan pencegahan yang cerdas dan berkesinambungan.

Yang terjadi seringali sebaliknya, pemerintah mempunyai andil dalam kegiatan pengrusakan misalnya melalui pemberian izin yang kurang bijak kepada kegiatan swasta yang dapat membahayakan lingkungan jangka panjang. Ini tentu sangat ironis. Perlu adanya pertimbangan yang lebih matang dan ilmiah, peninjauan manfaat serta bahayanya.

Pada Mei 2012 Bupati Kabupaten Samosir Mangindar Simbolon menerbitkan surat keputusan mengenai pemberian izin untuk lokasi usaha perkebunan Hortikultura dan selain itu juga lahan untuk peternakan sekitar 800 hektare di hutan Tele. Seperti yang tercantum di Wikipedia, pihak yang diberi izin tersebut adalah PT Gorga Duma Sari yang pemiliknya tidak lain seorang anggota DPRD Kabupaten Samosir, Jonni Sitohang. Tidak cukup sampai situ kepala dinas Provinsi Sumatera Utara juga menerbitkan SK Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan memberikan izin pemanfaatan kayu.

Tindakan ini tentu saja mendapat protes keras termasuk dari ketua pengurus forum ‘Peduli Samosir Nauli’ Rohani Manalu. Penebangan kayu di hutan Tele mengakibatkan erosi kecil yang akhirnya membuat sungai-sungai sekitar Danau Toba menjadi dangkal. Tentu saja saat musim penghujan tiba akan mengakibatkan air sungai meluap dan banjir serta hutan yang mengalami penggundulan akan longsor.

Pemerintah Sumut yang menggaungkan program penanaman sejuta pohon juga dinilai tidak memberikan solusi tuntas karena tidak disertai dengan langkah pengawasan dan perawatan yang serius. Akibatnya banyak pohon ditemukan mati dan tidak bisa tumbuh. Keadaan itu membuat para aktivis lingkungan yang merasa frustasi melakukan protes dengan cara melakukan pengembalian piagam-piagam penghargaan yang sebelumnya pernah didapatkan dari Pemerintah Provinsi Sumut, Kementerian Kehutanan, dan bahkan Istana Negara.

Langkah tersebut akhirnya mendapat sorotan serius dari Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya. Ia memberikan surat rekomendasi kepada Bupati Samosir untuk melakukan penutupan aktivitas usaha yang dilakukan PT Gorga Duma Sari. Tapi ternyata surat rekomendasi tersebut tidak dihiraukan oleh Pemerintahan Kabupaten Samosir. Sampai akhirnya datang surat kedua yang dijawab Bupati yang menyatakan bahwa ia tidak bisa menutup aktivitas usaha PT Gorga Duma Sari karena tidak ditemukan pelanggaran.

Kementrian Lingkungan Hidup yang merasa rekomendasinya tidak mendapat tempat akhirnya mengambil alih wewenang dan langsung melakukan penutupan sementara untuk aktivitas PT GDS. Melalui sidak dan pantauan langsung ke lapangan ternyata kementrian mendapatkan kenyataan pahit bahwa PT GDS tidak mematuhi keputusan Kementrian Lingkungan Hidup tersebut.

Setelah berkoordinasi dengan pemerintah Kabupaten Samosir akhirnya Bupati menyurati PT GDS yang menyatakan bahwa PT GDS wajib menaati surat keputusan yang diberlakukan Kementrian Lingkungan Hidup. Jonni Sitohang selaku orang dibalik PT GDS mengaku telah melakukan penarikan alat-alat berat dan penghentian semua kegiatan di hutan Tele.

Tentu saja tugas menjaga warisan keindahan alam Danau Toba dan pulau Samosir bukan hanya menjadi tanggung jawab satu orang atau satu pihak tertentu. Ini memerlukan kerja sama semua pihak termasuk masyarakat sekitar meskipun melalui tindakan sederhana tapi nyata. Kegiatan seperti membudayakan membuang sampah pada tempatnya, lalu memisahkan sampah organik dan anorganik, menanam pohon disekitar tempat tinggal dan lokasi umum, bersikap bijak dalam menggunakan kendaraan pribadi merupakan cara sederhana yang akan berdampak besar pada terjaganya lingkungan.

Artikel ini ditulis oleh: Riyan Putra

artikel-keren

Banyak orang membutukan informasi ini. Bagikan artikel GRATIS ini sekarang juga. . .

Related Post


Manfaat Rumput bagi Manusia
Manfaat Rumput bagi Manusia

Rumput adalah sejenis tumbuhan kecil yang dapat tumbuh dengan sendirinya,…

Inilah Solusi Tuntas untuk Mengatasi Kemacetan di Kota Besar
Inilah Solusi Tuntas untuk Mengatasi Kemacetan di Kota Besar

Kemacetan adalah masalah klasik yang sering dikeluhkan orang-orang di kota…