Home  /  Motivasi  / Motivasi: Pencerahan tentang Arti Kaya yang Sebenarnya

Motivasi: Pencerahan tentang Arti Kaya yang Sebenarnya


Motivasi: Pencerahan tentang Arti Kaya yang Sebenarnya

Kaya adalah relatif. Sebagian orang merasa kaya ketika mempunyai uang 10 juta rupiah. Sebagian orang merasa tidak kaya walaupun sudah memiliki  uang  10  milyar. Menurut  majalah  Forbes  kaya  adalah  orang yang mempunyai penghasilan 1 juta US ke atas setahunnya. Sedangkan menurut  Robert  T. Kiyosaki  yang  mengutip  dari  gurunya  Buckminster Fuller  bahwa  kaya  adalah  bukan  berapa  besar  active  income  Anda melainkan  kaya  adalah  passive  income  lebih  besar  dari  biaya  hidup. Yang di maksud passive income di sini adalah uang yang masuk tanpa harus berkerja.

Pertanyaan penting kali ini adalah:

  1. Bila besok Anda berhenti bekerja, berapa lama Anda akan dapat bertahan hidup dengan gaya hidup Anda sekarang tanpa harus menjual asset-asset Anda?
  2. Lalu bagaimana kita  bisa  kaya  menurut  versi  Robert  T.Kiyasaki dimana passive income lebih besar dari biaya hidup?

Jadi, sebetulnya menurut Robert T.Kiyosaki, Kaya adalah bagaimana menciptakan passive income lebih besar dari biaya hidup.

Cara membuat passive income:

  • Royalti dari hak cipta
  • Rumah yang disewakan/ dikontrakan.
  • Saham-saham yang menghasilkan deviden
  • Usaha-usaha yang dihasilkan.

Aturan pertama untuk menjadi kaya adalah tahu perbedaan antara asset dan kewajiban.

Keterangan:

Defenisi asset dan kewajiban menurut orang kaya versi Robert T.Kiyosaki berbeda dengan definisi menurut akuntan pada umumnya. Asset menurut Robert T.Kiyosaki adalah semua hal yang menghasilakan pemasukan, sedang kewajiban menurut Robert T.Kiyosaki adalah semua hal yang menyebabkan pengeluaran.

Rumah menurut akuntansi biasa adalah termasuk asset, menurut Robert T. Kiyosaki belum tentu. Banyak orang kelas menengah yang merasa ketika mereka mencicil rumahnya menganggap rumah mereka adalah asset padahal bukan, karena setiap bulan mengakibatkan pengeluaran dari kantong kita.

Banyak orang menengah mengira bahwa ketika mereka mempunyai rumah lebih dari satu tanpa perlu mencicil lagi mereka menganggap sebagai asset padahal belum tentu, selama rumah tersebut setiap bulan membebani kita atau menyebabkan pengeluaran maka rumah tersebut merupakn kewajiban.

Ada juga orang yang salah, merasa bahwa mencicil rumah pasti kewajiban padahal belum tentu, contoh: Seseorang mempunyai hutang 200 juta untuk membeli rumah dan kemudian cicilannya adalah Rp2 juta/bulan, kemudian rumah tersebut dikapling dan dikostkan sehingga menghasilkan perbulannya Rp 3 juta/bulan, maka rumah tersebut adalah asset karena memberikan penghasilkan Rp 1 juta/bulan.

Sebenarnya masih lumayan rumah yang dimana pada waktu dicicil dan tidak membawa pemasukan. Hal ini tersebut merupakan kewajiban, sedang saat dijual bila membawa keuntungan maka menjadi pemasukan kemungkinan hal ini jauh lebih tinggi dibandingkan bila orang mencicil kendaraan bermotor yang tidak membawa pemasukan waktu dijual menjadi kewajiban kerena rugi.

Kembali lagi orng kaya selalu fokus bagaimana menghasilkan asset yang terus akan menghasilkan pemasukan baik dengan atau tanpa bekerja. Seringkali kita dengar sebuah cerita yang biasa terjadi, orang menengah begitu lulus sekolah mereka bekerja dan kemudian ketika mereka menemukan pasangan mereka menikah dan karena dua-duanya bekerja mereka merasa cukup dapat penghasilan.

Untuk itu mereka memberanikan diri untuk mencicil rumah. Dan kemudian datang lah kabar gembira bahwa yang perempuan hamil. Dan untuk itu yang lelaki bekerja lebih keras lagi untuk menyambut kehadiran sang bayi. Dan begitu bayi lahir dan bayi berikutnya lahir, keduanya termotivasi untuk mengejar uang lebih keras lagi.

Waktu berlalu dan mereka berdua dipromosikan dan naik gaji. Dan ketika bertambah bayi berikutnya akhirnya yang laki-laki meminta sang istri berhenti bekerja untuk merawat anak. Dan sang suami bekrja lebih keras lagi sampai akhirnya dipromosikan dan naik gaji lagi. Dan kerena gaji cukup besar maka beranilah mulai menyicil mobil. Dan seiring anak-anaknya bertambah besar, rumah yang kecil tadi semakin penuh sesak dan begitu gaji besar maka mulai menyicil rumah yang lebih besar. Dan ketika anak-anak mulai besar maka mulai menyicil mobil berikutnya.

Dan ketika karir melonjak lebih bagus lagi karena di angkat menjadi direktur maka mulailah menyicil rumah mewah dan ada kolam renangnya. Terus dan menerus sampai akhirnya mereka mati meninggalkan hutang. Mereka seumur hidup menjadi budak uang.

Sedangkan orang kaya, mereka begitu lulus atau bahkan sebelum lulus mereka bekerja untuk mendapatkan pengetahuan, uang dan kenalan dimana akhirnya uang bekerja untuk mereka. Mereka menunda kesenangan, mengumpulkan uang, pengetahuan, dan kenalan kemudian mereka menginvestasikan ketiganya tadi sehingga uang bekerja untuk mereka dengan atau tanpa berkerja.

Contoh:

Mereka menyisihkan uangnya menggunakn pengetahuan serta kenalan untuk mendapatkan usaha-usaha yang menghasilkan uang tanpa harus terlibat terlalu banyak. Mungkin mereka akan invest ke kost-kost an, sarang burung wallet, reksadana, saham yang menghasilkan deviden, royalty, dan ketika pasif income-nya jauh lebih besar daripada gaya hidupnya, mereka aman dalam arti yang sungguhnya.

Kenapa  orang  kaya  semakin  kaya,  karena  begitu  orang  kaya penghasilannya bertambah besar maka gaya hidupnya sementara tetap (menunda  kesenangan).  Penghasilan  yang  lebih  ini  diinvestasikan kedalam  asset  (beli  saham  yang  menghasilkan  deviden,  rumah  kost-kostan,  ruko  yang  dikontrakkan,  Mall  yang  disewakan,  sarang  walet, usaha-usaha  yang  menghasilkan,  dll).  Sedemikian  sehingga penghasilan mereka bertambah besar. Dan ketika penghasilan mereka bertambah besar lagi, mereka investasikan lagi ke dalam asset tersebut di atas, sehingga semakin kaya dan semakin kaya lagi.

Kenapa  orang  menengah  bergumul  terus  secara  financial?  Ketika orang  menengah  penghasilannya  bertambah  besar  maka  dia  mencicil rumah yang lebih besar, mobil yang lebih besar, handphone yang lebih canggih, komputer yang lebih modern, televisi yang lebih besar, audio yang lebih canggih dan banyak sekali uang untuk kewajiban sehingga masuk kedalam pengeluaran. Orang menengah ini bisa memiliki rumah yang besar, mobil yang besar tapi tidak mempunyai uang yang bekerja untuk dia. Dan seumur hidupnya menjadi budak uang karena membayar cicilan semakin besar seumur hidupnya.

Kenapa orang miskin bablas miskin? Orang  miskin  tidak  perduli  seberapa  besar  pun  penghasilannya semua akan masuk ke pengeluaran. Contoh : Orang  miskin  begitu  penghasilannya  bertambah  besar  mereka  beli TV  yang  besar,  beli  jamnya  yang  mahal,  beli  hp  yang  lebih  baru, beli baju  mahal,  makan  di  restoran  mewah,  ikut  keanggotaan  fitness,  ikut asuransi yang tidak perlu, dll.

Pertanyaannya :

Bila penghasilan Anda bertambah besar, Anda belikan apa? Hal-hal yang menghasilkan uang lagi atau hal-hal yang menghabiskan uang. Silahkan dijawab, Anda yang tahu termasuk golongan manakah Anda?

Sumber: TDW – 37 Secrets To be Rich

artikel-berkualitas

Banyak orang membutukan informasi ini. Bagikan artikel GRATIS ini sekarang juga. . .

Related Post


Motivasi : Inilah Ritual Sederhana untuk Menciptakan Kebahagiaan yang Sebenarnya
Motivasi : Inilah Ritual Sederhana untuk Menciptakan Kebahagiaan yang Sebenarnya

Uang=Bahagia? Kadar dan intensitas kebahagiaan akan mempengaruhi kualitas hidup termasuk…

Motivasi: Teori Kesuksesan dan Kekayaan
Motivasi: Teori Kesuksesan dan Kekayaan

Percaya bahwa Anda akan kaya dan sukses “Percaya Anda akan…

Motivasi: 5 Strategi Kesuksesan & Kekayaan
Motivasi: 5 Strategi Kesuksesan & Kekayaan

Sikap positif Sikap adalah satu faktor penentu kesuksesan dalam apapun …

Motivasi: Kesuksesan, Memaafkan, Menghadapi Hinaan, Memudahkan Hidup
Motivasi: Kesuksesan, Memaafkan, Menghadapi Hinaan, Memudahkan Hidup

Setiap manusia terobsesi dan menginginkan kesuksesan. Sukses sendiri menurut saya…