Nostalgia Marketing B2B

dan Pengaplikasianya untuk Jualan Online

Dulu ketika saya masih bekerja secara offline di perusahaan supplier electeical di daerah Jakarta Barat, meskipun saya bukan 100% bagian pemasaran tapi saya sering bepergian bersama para pemasar atau marketer (bahasa salah kaprahnya adalah para sales). Saya pun mempelajari cara kerja mereka.

Produk kami ini dijual ke pabrik-pabrik atau gedung perkantoran. Jadi sebetulnya tipe bisnis yang kami jalankan bisa disebut B2B atau business to business.

Memang antara pemasaran B2B dan B2C (business to customer) jelas berbeda.

Diantaranya kalau kita bergerak di B2C bisa hanya dengan iklan secara gencar, menurunkan harga jual, penjualan mungkin akan langsung meningkat, tapi utk B2B ini berbeda.

Bisa kita pahami karena yg melakukan pembelian adalah perusahaan jadi dalam jumlah besar, dan memiliki tim khusus yang mengkaji apa yang harus dibeli dan bagaimana standar kualitas yang dibutuhkan maka biasanya sangat detil dalam melihat kualitas produk dan track record perusahaan kita.

Tapi saya tidak akan mebahas itu terlalu jauh.

Saya bahas yang lebih sederhana saja. Kalau saya perhatikan, proses terjadinya penjualan itu bukan dengan datang ke sebuah perusahaan baru, lalu presentasi dan terjadilah penjualan, bukan seperti itu.

Itulah sebabnya di jualan online, kalau kita datang ke orang asing dengan cara inbox atau broadcast dan langsung menawarkan produk, sulit untuk menghasilkan penjualan.

Biasanya, kami mendapatkan orderan besar dari para pelanggan bukan pembeli baru. Artinya kepercayaan dalam B2B memang penting.

Nah proses untuk mendapatkan pembeli baru ini memang melalui banyak saluran. Ada yang karena rekomendasi teman, ada yang pasang iklan, ada yang dari melihat yelowpage, dll.

Tapi ini tidak terjadi di satu kali pertemuan. Para sales ini lebih fokus bagaimana menciptakan keakraban emosional secara personal. Mereka tidak jualan secara langsung, tapi membuat orang terkesan, nyaman, dan beruntung sudah berkenalan maka selanjutnya akan terjadi pertemuan kedua dan seterusnya.

Tapi intinya dari hasil penjualan pertama ini jarang mendapatkan untung besar. Malah ada budget khusus yang diberikan perusahaan kami untuk dipergunakan para sales dalam menaklukan hati orang-orang yang berada dibagian purchasing. Biaya pendekatan istilahnya.

Nah kesimpulannya kita jangan hanya berfikir bagaimana profit sebesar-besarnya di awal, tetapi bagaimana membangun database dan kepuasan pelanggan.

Ini tentu dg selalu mendapatkan pembeli baru dan sekaligus menjadikan mereka pelanggan dengan cara menjaga kualitas produk dan service agar mendapatkan kepuasan dan kepercayaan mereka.

Tentu Anda juga pernah dengar bahwa bisnis yang kuat dibangun di atas repeat order. Artinya kita jangan hanya fokus menghasilkan penjualan sekali saja.

Dalam jualan online, sebaiknya kita juga berfikir jauh seperti itu misalnya dengan fokus membangun buyer list.

Anda bisa launching produk dengan harga terjangkau, adakan kontes affiliate dimana jangan fokus ke profit, bisa impas atau bahkan rugi pun untuk hadiah kontes tidak masalah. Ini demi menambah jumlah buyerlist dulu.

Nah tugas selanjutnya adalah menjaga kepuasan mereka kemudian buat mereka beli produk kedua dan selanjutnya.

Selamat beraktivitas..

Produk Gratis

Penawaran Terbaru

Artikel Lainnya

Copyright Oralali.com – All Rights Reserved